Bamsoet Apresiasi Deklarasi SW60+ untuk Hadapi Tantangan Disinformasi

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta -

Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengapresiasi dibentuknya Serikat Wartawan Senior Indonesia (SW60+). Menurutnya, deklarasi SW60+ datang pada momentum nan tepat, ketika Indonesia tengah menghadapi tantangan serius berupa fragmentasi sosial, polarisasi politik, serta derasnya arus disinformasi di ruang digital nan berpotensi mengganggu stabilitas nasional.

Dia menilai Fenomena polarisasi sosial di Indonesia kian terasa dalam beberapa tahun terakhir. Gelombang demonstrasi sepanjang tahun 2025 terjadi di beragam wilayah dengan skala besar, apalagi melibatkan puluhan ribu massa dan memicu ketegangan sosial di sejumlah wilayah.

Di ruang digital, kata dia, polarisasi juga terlihat dari akibat percakapan di media sosial, di mana satu rumor dapat memicu jutaan hubungan dengan kekuasaan sentimen negatif dalam waktu singkat. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin terbelah dalam langkah pandang terhadap isu-isu publik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita sedang menghadapi situasi di mana ruang publik dipenuhi info nan tidak semuanya benar. Polarisasi sosial semakin tajam, apalagi berakibat ke hubungan antar warga. Dalam kondisi seperti ini, peran wartawan senior sangat krusial untuk menjaga arah dan logika sehat publik," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Sabtu (18/4/2026).

Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ini memaparkan, maraknya hoaks dan disinformasi memperkeruh situasi. Sepanjang tahun 2025, sangat banyak beredar rumor hoaks, mulai dari video kerusuhan, rumor pejabat mundur, hingga narasi bentrok nan rupanya tidak benar. Bahkan, keberadaan buzzer sekarang menjadi bagian dari ekosistem info nan secara aktif memengaruhi opini publik dan langkah masyarakat berpikir.

"Kita tidak bisa menutup mata bahwa perang info sedang terjadi. Hoaks, propaganda, dan manipulasi narasi menjadi ancaman nyata bagi persatuan bangsa. Di sinilah wartawan senior kudu mengambil peran sebagai penjernih sekaligus penyeimbang," tegas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini mengingatkan politik identitas menjadi salah satu tantangan terbesar dalam menjaga persatuan bangsa.

Eksploitasi rumor agama, etnis, dan golongan sosial tertentu dalam kontestasi politik telah mempersempit ruang perbincangan dan memperbesar potensi bentrok horizontal. Dalam situasi ini, media mempunyai peran nan sangat menentukan, apakah bakal menjadi pemicu bentrok alias justru menjadi peredam.

"Karenanya, pers kudu berdiri di garis depan dalam melawan politik identitas dan provokasi. Media tidak boleh terjebak dalam framing nan memperuncing perbedaan, tetapi kudu mendorong persatuan," pungkas Bamsoet.

Sebagai informasi, deklarasi SW60+ digelar di Jakarta pada Jumat (17/4).Hadir antara lain Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, Ketua PWI Pusat Akhmad Munir, Kepala Staf Kepresidenan M. Qodari, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Marsudi Syuhud, Anggota DPR RI Ahmad Doli Kurnia, Ketua SW60+ Wahyu Muryadi, Anies Baswedan, Arsjad Rasjid, Budiman Tanuredjo, Suryopratomo, Panda Nababan, Eros Djarot, Sujiwo Tedjo, Susi Pudjiastuti, Saleh Husin, Rudiantara, Nasir Tamara, Todung Mulya Lubis, Don Bosco Selamun, Sofwan Wanandi, Kemal Effendi Gani, Marah Sakti Siregar serta para wartawan senior lainnya.

(akd/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News