Balinale akhiri pagelaran pastikan terus bantu program Kemenbud.
, DENPASAR, – Festival movie internasional Balinale jenis ke-19 berhujung dengan menegaskan komitmen untuk mendukung program Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) dalam melestarikan kearifan lokal melalui perfilman. Pihak penyelenggara berjanji bakal terus mendukung program-program Kemenbud, sebagaimana disampaikan oleh Deborah Gabinetti, pendiri sekaligus Direktur Festival Balinale, pada Sabtu di Denpasar.
Setelah berjalan selama sepekan, Balinale 2023 menilai lebih dari 1.300 movie nan dikurasi menjadi 94 movie dari 38 negara. Dari jumlah tersebut, 26 movie adalah karya sineas Indonesia, dan beberapa di antaranya menerima penghargaan unik di pagelaran nan mempunyai reputasi internasional dan berkualifikasi Oscar ini.
Deborah Gabinetti menyatakan bahwa Balinale mempunyai hubungan dunia nan membantu mempromosikan industri perfilman Indonesia. Ia menegaskan, "Program pemerintah dalam mempromosikan perfilman bisa lewat jaringan kami."
Pada malam penganugerahan, diumumkan bahwa movie The Tuners karya Pawel Chorzepa dari Polandia memenangkan kategori Film Dokumenter Pendek. Film Ali karya Adnan Rajeev (Bangladesh/Filipina) dan Lifetime Warranty oleh Daniel Lobos (Chili) masing-masing memenangkan kategori Narasi Pendek dan Animasi Pendek.
Pemenang kategori lainnya termasuk The Designer is Dead oleh Gonzalo Hergueta (Spanyol) untuk Film Dokumenter Panjang dan Aisha Can’t Fly Away oleh Morad Mostafa (Mesir) untuk Film Naratif Terbaik. Penghargaan unik diberikan kepada movie Sound of Silence oleh Gavrila Angelina (Indonesia) dan Amazing Fantastic Extraordinary People oleh Nadine Habsjah dan Yusgunawan Marto (Indonesia) nan memenangkan kategori Tapestry of Indonesia.
Deborah memandang potensi besar dalam keterlibatan sineas lokal nan semakin diakui, meningkatkan kepercayaan diri dan kebanggaan terhadap karya mereka. Kategori baru, Tapestry of Indonesia, diharapkan menjadi wadah bagi suara-suara dari seluruh Indonesia. Ia juga mendorong kreator movie untuk tidak terpaku pada satu tema dan lebih terbuka terhadap realitas sekitar.
Menurut Deborah, bumi internasional mengagumi industri perfilman Indonesia lantaran sering mengangkat kearifan lokal. "Kami mau seterbuka mungkin, tidak membatasi tema, dan memastikan semua nan dibutuhkan ada, baik itu penyampaian pesan maupun produksinya," kata Deborah.
Dengan visi nan sama dengan Kemenbud untuk menonjolkan kearifan lokal, Balinale berencana menjalin kerja sama lebih erat dengan pemerintah untuk memajukan movie Indonesia, terutama bagi para pemuda.
Konten ini diolah dengan support AI.
sumber : antara
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·