Lebih dari 30 orang tewas di Kamp Kigonze, Kongo, memicu kecurigaan pandemi Ebola. Nakes memakai APD komplit terlihat mengubur jenazah.
Petugas kesehatan dengan perangkat pelindung diri (APD) komplit membawa peti meninggal korban nan diduga terinfeksi virus memarikan, Ebola, dari sebuah gedung nan digunakan sebagai bilik mayit saat mereka mempersiapkan pemakaman di Pemakaman Nyamurongo, satu bulan setelah pandemi dinyatakan, di Bunia, bagian timur Republik Demokratik Kongo. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
Dilansir Reuters Selasa (23/6/2026), setidaknya 30 orang meninggal bumi sejak awal Mei di Kamp Pengungsi Kigonze, wilayah Bunia, timur laut Republik Demokratik Kongo. Lonjakan kematian nan belum pernah terjadi sebelumnya itu memicu kekhawatiran bahwa pandemi Ebola mungkin menyebar tanpa terdeteksi di area nan dihuni lebih dari 15.000 pengungsi tersebut. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
Menurut pejabat kamp dan organisasi support Caritas, penyebab pasti kematian belum dapat dipastikan lantaran para pasien maupun family korban menolak menjalani pemeriksaan laboratorium. Penolakan tersebut terjadi baik terhadap pasien nan tetap hidup maupun jenazah korban. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
Meski belum ada konfirmasi resmi, sejumlah korban dilaporkan mengalami indikasi nan identik dengan Ebola, seperti sakit kepala, demam, dan muntah. Informasi itu disampaikan oleh ahli bicara kamp, family korban, pekerja bantuan, serta tokoh masyarakat setempat. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
Presiden Kamp Kigonze, Dz'djo Ndrutsi Etienne, mengatakan sebanyak 10 orang dimakamkan hanya dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa virus mematikan itu dapat menyebar lebih luas di antara jutaan penduduk nan mengungsi akibat bentrok berkepanjangan di wilayah timur Kongo. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
Seorang pejabat kesehatan setempat, Grodya, mengatakan petugas medis telah mengambil sampel dari lima korban dan sekarang menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Selain Ebola, kolera juga menjadi kemungkinan penyebab lantaran mempunyai sejumlah indikasi serupa dan dapat menyebar sigap di lingkungan dengan sanitasi buruk. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
Empat pekerja support menilai lonjakan kematian tersebut menunjukkan meningkatnya kerentanan masyarakat terhadap penyakit menular setelah berkurangnya pendanaan internasional untuk sektor air bersih, kebersihan, dan sanitasi. Program-program tersebut dinilai krusial untuk mencegah penyebaran penyakit nan ditularkan melalui cairan tubuh dan limbah manusia. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan pendanaan untuk akomodasi toilet dan tempat cuci tangan di Kongo turun lebih dari 50% antara 2024 dan 2025, menjadi sekitar US$38 juta alias sekitar Rp658 miliar. Sementara itu, permohonan biaya sebesar US$80 juta atai selotar Rp1,39 triliun untuk tahun ini baru terpenuhi sekitar 21%. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
Nampak seorang wanita pengungsi di kamp pengungsi Kigonze bermohon saat menghadiri pemakaman keluarganya. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
Republik Demokratik Kongo saat ini mempunyai ratusan kamp pengungsi nan menampung penduduk sipil nan melarikan diri dari bentrok bersenjata. Beberapa kamp apalagi dihuni hingga 100.000 orang. Provinsi Ituri, tempat Kamp Kigonze berada, menyumbang lebih dari 90% dari nyaris 900 kasus Ebola nan telah terkonfirmasi di negara tersebut. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·