Baju Sekarang Bukan Lagi Sekadar Baju

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Foto Tim Kana Goods ,Earthen Project & Flamingo T-Yarn. Foto: Dokumentasi pribadi

Dulu, banyak orang membeli busana sekadar untuk kebutuhan alias mengikuti tren. Namun hari ini, perlahan langkah pandang itu mulai berubah. Terutama di kalangan anak muda, busana tidak lagi hanya dilihat sebagai sesuatu nan dipakai di tubuh, tetapi juga sebagai corak nilai, identitas, apalagi sikap terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.

Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya aktivitas nan muncul di masyarakat. Mulai dari aktivitas tukar baju (clothes swap), tren thrifting, hingga aktivitas berkain nan membujuk generasi muda kembali mengenal budaya lokal. Semua ini menunjukkan bahwa fashion kini bergerak ke arah nan lebih sadar dan lebih personal.

Anak muda sekarang mulai mau memberi dampak. Mereka tidak hanya bertanya “Bajunya bagus alias tidak?”, tetapi juga mulai mempertanyakan: “Siapa nan membuatnya?”, “Apakah prosesnya merusak lingkungan?”, alias “Apakah produk ini punya cerita dan nilai?”

Tren thrifting misalnya, tidak lagi sekadar mencari peralatan murah. Banyak orang mulai menikmati proses menemukan busana unik dengan sejarah dan karakter tersendiri. Ada kepuasan ketika memakai peralatan nan tidak pasaran dan mempunyai cerita perjalanan sebelumnya. Di sisi lain, thrifting juga dianggap sebagai salah satu langkah sederhana untuk mengurangi limbah fashion dan budaya konsumsi berlebihan.

Gerakan tukar baju juga mulai banyak bermunculan di beragam komunitas. Konsepnya sederhana: daripada membeli baru terus-menerus, busana lama nan tetap layak bisa dipertukarkan dengan orang lain. Selain lebih ramah lingkungan, aktivitas seperti ini juga menghadirkan rasa kebersamaan dan kesadaran bahwa fashion sebenarnya bisa lebih berkelanjutan.

Foto sore santuy mengenakan kain. Foto: Dokumentasi pribadi

Hal menarik lainnya adalah munculnya kembali minat terhadap kain tradisional dan budaya lokal. Gerakan berkain nan dulu sering dianggap antik sekarang mulai diterima generasi muda sebagai corak kebanggaan identitas. Banyak anak muda memakai kain dengan langkah nan lebih modern dan elastis dalam aktivitas sehari-hari. Mereka mulai menyadari bahwa kain bukan hanya warisan budaya, melainkan juga bagian dari cerita tentang asal-usul dan jati diri.

Di tengah cepatnya tren fashion berganti melalui media sosial, sebagian orang mulai merasa capek dengan budaya konsumsi nan terlalu cepat. Lemari penuh, tetapi tetap merasa tidak punya baju. Belanja terus-menerus, tetapi kepuasannya hanya sebentar. Dari situ muncul kemauan untuk kembali membeli sesuatu nan lebih bermakna, lebih tahan lama, dan lebih mempunyai hubungan emosional.

Menjelujur di atas tas natural dye. Foto: Dokumentasi pribadi

Karena itu, produk handmade, upcycle, dan karya lokal perlahan mulai mendapat tempat di hati masyarakat tertentu. Ketidaksempurnaan justru dianggap mempunyai karakter. Jahitan tangan, tambalan kain, warna alami, alias corak nan tidak sepenuhnya seragam menjadi sesuatu nan terasa lebih manusiawi dibanding produk massal nan serba sama.

Mungkin inilah tanda bahwa bumi fashion sedang bergerak ke arah nan berbeda. Bukan lagi hanya soal mengikuti tren tercepat, melainkan juga tentang gimana sebuah busana bisa membawa cerita, nilai, dan kesadaran baru bagi orang nan memakainya.

Sebab pada akhirnya, baju sekarang bukan lagi sekadar baju. Ia bisa menjadi langkah seseorang menyampaikan siapa dirinya, apa nan dia percaya, dan akibat seperti apa nan mau dia tinggalkan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan