Bahlil Targetkan RI Setop Impor Solar Mulai 2026

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan Indonesia tidak bakal lagi melakukan impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis solar pada 2026.

Menurut Bahlil, konsumsi solar Indonesia saat ini berada di kisaran 40 juta kiloliter (kl) per tahun. Namun, melalui beragam kebijakan substitusi daya ketergantungan terhadap impor sukses ditekan.

"Konsumsi BBM kita untuk solar itu kurang lebih sekitar 40 juta kurang lebih ya ada kurang-kurang dikit lebihnya lebih dikitlah 40 juta kiloliter solar. Untuk solar dalam sejarah bangsa kita di 2026 alhamdulillah tidak kita lakukan lagi impor solar lantaran semua sudah dalam negeri," ujar Bahlil dalam aktivitas Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa, Sabtu (2/4/2026).

Bahlil menjelaskan keberhasilan penghentian impor solar tidak lepas dari penerapan program biodiesel nan telah melangkah sejak 2016. Program tersebut dimulai dari campuran B10, kemudian meningkat menjadi B20, B30, hingga B40, dan ditargetkan mencapai B50 pada pertengahan tahun.

"Di bulan Juli besok menjadi B50 itu adalah langkah untuk mengkonversi substitusi impor kita dari B0 menjadi B50 di mana campuran CPO dan metanol menjadi FAME dan FAME ini kemudian dicampur dengan B0. Inilah kemudian kenapa tidak lagi kita melakukan impor solar," kata Bahlil.

Sebelumnya, Bahlil menegaskan bertambahnya kapabilitas kilang Balikpapan membuka kesempatan Indonesia menghentikan impor BBM. Pasalnya, kebutuhan nasional bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri.

"Insya Allah begitu RDMP Kilang Balikpapan diresmikan pengoperasiannya mulai tahun ini, impor solar dihentikan. Hal ini dilakukan dalam rangka mendorong kedaulatan daya dengan tidak lagi mengandalkan pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri melalui impor," kata Bahlil.

Menurut Bahlil kebutuhan solar Indonesia tercatat sebesar 39,8 juta kiloliter per tahun. Dari jumlah tersebut, program B40 menyumbang pasokan Fatty Acid Methyl Este (FAME) sebesar 15,9 juta kl per tahun, sehingga kebutuhan solar murni (B0) tersisa 23,9 juta kl per tahun.

Dengan produksi nasional nan saat ini mencapai 26,5 juta kl per tahun, pemerintah menargetkan penghentian impor solar mulai pertengahan 2026 untuk produk CN 48 dan CN 51 mulai pertengahan 2026.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News