Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia mengaku senang dengan tren kenaikan elektabilitas Partai Golkar berasas hasil survei nan beredar belakangan ini. Menurut Bahlil, capaian tersebut merupakan buah dari kerja kolektif dan kekompakan seluruh kader partai, mulai dari pengurus pusat hingga daerah.
Bahlil menyinggung hasil survei Indikator Politik Indonesia nan beredar di media sosial. Meski dia mengakui survei tersebut dibantah sebagai publikasi resmi, Bahlil meyakini hasil nan beredar kemungkinan besar benar.
“Informasi nan kedua adalah dari sebuah proses dinamika kita, hasil survei nan dikeluarkan oleh Burhanuddin Muhtadi, tapi dia membantah, tapi saya tahu itu kemungkinan besar benar, itu, bahwa survei Partai Golkar sekalipun dengan dinamika konon cerita katanya kita ini kan pemimpin nan milenial, sekarang kita sudah punya partai kita surveinya 10,8%," kata Bahlil saat membuka aktivitas Training of Trainers (ToT) Akademi Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Senin (3/8).
"PDIP kurang lebih sekitar 13 sekian nyaris 14, Gerindra itu dalam survei Burhanuddin Muhtadi, 18 alias 19 lah, kira-kira begitu,” tambahnya.
Bahlil kemudian membandingkan capaian elektabilitas Golkar saat ini dengan tren survei partainya pada periode-periode sebelumnya. Menurut dia, sejak era reformasi, elektabilitas Golkar pada dua tahun setelah pemilu umumnya tetap berada di kisaran satu digit.
“Dalam sejarah Partai Golkar pasca reformasi katakanlah kita tarik 2010 ke sini, selalu survei kita itu pasca pemilu 2 tahun, itu rata-rata di 6, 7, 8 maksimal di 9%. Tapi biasanya kan survei Partai Golkar itu antara hasil survei dengan realisasi di Pileg itu lebih tinggi realisasinya. Kalau nan lain realisasinya lebih mini daripada hasil survei. Jadi jika kita mau bandingkan sekarang survei partai kita biasanya itu 2 minggu sebelum Pileg itu baru double digit,” ujarnya.
Ia juga mengingat kembali hasil survei menjelang Pemilu Legislatif 2024. Menurutnya, saat itu elektabilitas Partai Golkar baru menyentuh nomor dua digit sekitar tiga pekan sebelum hari pemungutan suara.
“Saya kebetulan kemarin cek lagi survei Partai Golkar di pileg 2024, 3 minggu sebelum pileg itu baru kita 10,7%. Nah sekarang kita sudah 10,8%,” kata Bahlil.
Bahlil menilai kenaikan elektabilitas tersebut merupakan gambaran dari kerja kolektif nan dilakukan seluruh kader Partai Golkar. Ia mengatakan, kekompakan partainya mendapat penilaian positif dari masyarakat.
“Apa nan saya mau sampaikan, bahwa kerja-kerja kita, kerja-kerja kolektif kita, kekompakan kita dari DPP sampai ke tingkat wilayah itu rupanya mendapat respon nan cukup baik nan kemudian dinilai oleh publik. Nah, ini nan kemudian nan menjadi apa ya, saya senang saja gitu, sekalipun agenda kita banyak di pemerintah,” ujarnya.
Meski demikian, Bahlil mengingatkan Partai Golkar tidak boleh hanya berorientasi pada perolehan bangku semata. Menurutnya, penguatan kaderisasi tetap menjadi fondasi utama dalam membangun partai.
“Akademi Partai Golkar merupakan suatu hasil keputusan dan perintah MUNAS. Perintah MUNAS nan kemudian kita masukkan di dalam anggaran dasar anggaran rumah tangga dan program kerja diperkuat di Rapimnas,” kata Bahlil.
Menurutnya, keberadaan Akademi Partai Golkar bermaksud menghidupkan kembali pola kaderisasi nan selama ini diterapkan para pendahulu partai.
“Yang tujuannya tidak lain adalah gimana kita mengembalikan pola-pola nan telah ditanamkan dan diajarkan oleh para pendahulu kita dalam sistem kepemimpinan di Partai Golkar,” ujarnya.
Bahlil juga mengakui tujuan setiap partai politik adalah memenangkan kontestasi politik dan memperoleh kekuasaan melalui parlemen maupun eksekutif. Namun, dia mengingatkan agar orientasi tersebut tidak mengabaikan nilai-nilai dasar perjuangan partai.
“Hari ini kita semua terjebak, menurut saya, dalam satu kecenderungan hasil pemilu untuk mendapatkan bangku nan banyak, itu betul. Karena tujuan kita berpartai merebut kekuasaan dan representasi merebut kekuasaan itu adalah gimana kita mendapatkan bangku sebanyak-banyaknya di parlemen dan merebut kekuasaan di eksekutif. Karena enggak bakal mungkin sebuah aliran doktrin karya-kekaryaan kita lakukan tanpa ada kekuasaan,” katanya.
Kapasitas Harus Ditingkatkan
Bahlil juga menyampaikan pertimbangan terhadap kualitas kader Partai Golkar. Meski menilai kualitas kader Golkar lebih baik dibanding rata-rata partai lain, dia mengaku belum puas dengan kapabilitas para kader nan saat ini duduk di parlemen.
“Tetapi izinkan saya, ini sebagai otokritik kita, dalam pengalaman saya menjadi Ketua Umum Partai Golkar nyaris 2 tahun kurang 17 hari. Saya terpilih jadi Ketua Umum itu tanggal 20 Agustus 2024. Hari ini tanggal 3 Agustus, berfaedah 17 hari lagi baru saya genap 2 tahun menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Dalam pengalaman itu saya memandang tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa kualitas kader Partai Golkar ini jauh lebih baik di atas rata-rata daripada nan lain. Namun, menurut saya, itu saya tidak puas,” ujarnya.
Ia menilai tetap banyak personil Fraksi Partai Golkar di DPR RI nan perlu meningkatkan kapasitasnya.
“Menurut saya, adalah 102 bangku nan ada kita di parlemen, ini tetap banyak nan butuh kita upgrade bersama-sama, kita belajar bersama-sama. Saya mau gimana ketika Bang Ical (Aburizal Bakrie) menjadi Ketua Umum, waktu itu Bang Rambe Kamarul Zaman sebagai Pimpinan Komisi II, mana Bang Rambe tadi? Nah. Bagaimana Bang Zainudin Amali dan para senior-senior semua? Itu menjadi singa forum," kata Menteri ESDM itu.
"Bagaimana Bang Andi Mattalatta ketika menjadi ketua fraksi melakukan orkestra pengedaran personil DPR di masing-masing komisi, kemudian mereka menjadi leader. Nah, itu terjadi lantaran memang ada by process, bukan semata-mata langsung jadi begitu,” kata Bahlil.
Untuk menggambarkan pentingnya kaderisasi, Bahlil kemudian mengibaratkan Partai Golkar sebagai pohon beringin nan mempunyai akar kuat.
“Saya menganalogikan Partai Golkar ini lambang kita ini beringin. Pohon beringin itu rindang, pohonnya bagus, tapi jauh lebih dari itu akarnya. Coba teman-teman membayangkan pohon nan kita tanam dari kecil, dari nol, itu hasilnya bakal berbeda dengan ketika kita mengambil pohon beringin dari punya orang alias nan tidak tertanam dalam rumah sendiri, kemudian kita taruh. Pohonnya mungkin bagus, tapi akarnya nan kurang kuat,” ujarnya.
Menurut Bahlil, pemahaman terhadap nilai-nilai dasar perjuangan partai menjadi bekal krusial agar kader tidak terjebak dalam pragmatisme politik.
“Analogi sederhana ini saya mau memakai untuk kemudian gimana kita memahami secara kafah nilai-nilai dasar dalam perjuangan partai. Ketika kita tidak memahami nilai-nilai dasar kita, maka sistem politik nan kita pakai, ya minta maaf, pragmatisme politik itu penting, tapi jika itu terus nan dikedepankan tanpa ada sebuah nilai nan diperjuangkan secara kafah, itu pasti bakal terjadi distorsi tujuan,” ujar Bahlil.
“Nah, ini nan menjadi pikiran saya, jika bisa ini nan kudu kita lakukan. nan ngono sih ngono, tapi jangan ojo ngono, gitu lho,” pungkasnya.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·