Bahlil Sedang Kaji CNG Jadi Alternatif LPG

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangan saat konvensi pers mengenai penemuan persediaan gas raksasa di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menyampaikan saat ini pemerintah mencari pengganti pasokan LPG nan terganggu akibat perang di Iran. Salah satu pengganti nan saat ini sedang dalam pembahasan adalah Compressed Natural Gas (CNG).

CNG merupakan salah satu bahan bakar gas bumi nan dikompresi (metana) dengan tekanan tinggi, nan dimanfaatkan sebagai daya bersih pengganti untuk transportasi, dan industri.

“Nah, pengganti ketiga, sekarang lagi tetap dalam pembahasan nan tadi saya laporkan adalah kita membikin CNG,” kata Bahlil di Istana Negara, Senin (27/4).

Menurut Bahlil, pasokan CNG lebih mudah didapatkan dari dalam negeri. Gas cair C1-C2 merujuk pada gas alam (natural gas) nan didominasi oleh komponen metana (C1) dan etana (C2) nan telah dicairkan untuk mempermudah penyimpanan dan transportasi.

“Dan itu industri di dalam negeri kita banyak. Tetapi dia memakai satu perangkat nan kemudian bisa ditekan sampai dengan 250 sampai 400 bar, tekanannya," kata Bahlil.

"Tapi sekali lagi ini tetap dalam tahap konsolidasi agar kita bisa mencapai hasil nan lebih baik,” ujarnya.

Selain itu, CNG bukanlah perihal baru di Indonesia. Bahlil menjelaskan saat ini CNG juga sudah digunakan untuk beberapa sektor termasuk perhotelan dan restoran.

“Untuk hotel, restoran, itu sudah dipakai [CNG]. Sebagian SPBG [Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas] sudah juga dipakai. Dan itu bahan bakunya tidak kita impor, semuanya dalam negeri,” kata Bahlil.

Ilustrasi LPG Nonsubsidi. Foto: Andri wahyudi/Shutterstock

Sebelumnya, nilai LPG nonsubsidi naik nyaris 19 persen per 18 April 2026. Harga baru ini bertindak pada tabung Bright Gas 5,5 kg dan 12 kg seiring dengan naiknya nilai minyak mentah dan gas lantaran perang.

Berdasarkan laman Pertamina Patra Niaga, nilai terbaru LPG 5,5 kg untuk wilayah DKI dan Jawa Rp 107.000 per tabung, naik Rp 17.000 jika dibandingkan nilai terakhir kali pada November 2023 Rp 90.000 (18,89 persen).

Sementara nilai LPG 12 kg naik Rp 36.000 dari Rp 192.000 menjadi Rp 228.000 per tabung. Kenaikannya mencapai 18,75 persen.

Selain di DKI Jakarta dan Jawa, nilai LPG 5,5 kg ada 12 kg lebih mahal lagi. Misalnya, di Provinsi Aceh hingga Kepulauan Riau naik menjadi Rp 111.000 dan Rp 230.000 per tabung.

Di sejumlah provinsi di Kalimantan dan Sulawesi masing-masing menjadi Rp 114.000 dan Rp 238.000 per tabung. Termahal ada di Maluku dan Papua nan dijual Rp 134.000 dan Rp 285.000 per tabung.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan