, JAKARTA, – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemberian insentif untuk baterai nickel-manganese-cobalt (NMC) merupakan salah satu strategi utama pemerintah untuk mendongkrak pasar mobil listrik berbasis nikel. Pernyataan ini disampaikannya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada Senin.
"Ke depan bakal ke sana. (Insentif NMC menjadi) bagian salah satu strateginya," ujar Bahlil. Ia menegaskan bahwa kendaraan listrik dengan baterai lithium iron phosphate (LFP) tidak menjadi prioritas lantaran Indonesia tidak mempunyai bahan baku untuk memproduksinya.
Saat ini, Indonesia tengah gencar membangun ekosistem baterai kendaraan listrik berbasis nikel alias NMC. Oleh lantaran itu, arah pengembangan mobil listrik di dalam negeri bakal difokuskan pada teknologi berbasis nikel.
Keunggulan Baterai NMC Dibanding LFP
Bahlil pun menegaskan bahwa kendaraan listrik nan menggunakan baterai berbasis nikel mempunyai kelebihan dibandingkan LFP. "Kalau jarak-jarak pendek itu LFP biasanya, tetapi jika jarak panjang itu nikel tetap lebih paten," ucapnya.
Dengan demikian, dia meyakini kendaraan listrik dengan baterai berbasis nikel lebih unggul meskipun dari segi nilai lebih mahal andaikan dibandingkan dengan kendaraan listrik berbaterai LFP.
Pemerintah Siapkan Insentif Kendaraan Listrik
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada Mei 2026 mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan insentif kendaraan listrik nan ditargetkan mencakup masing-masing 100 ribu unit mobil listrik dan 100 ribu unit sepeda motor listrik pada tahun ini.
Untuk sepeda motor listrik, pemerintah menganggarkan insentif sebesar Rp5 juta per unit. Sedangkan untuk mobil listrik, insentif diberikan berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 40–100 persen untuk pembelian kendaraan listrik.
Insentif PPN DTP ini dikhususkan untuk kendaraan listrik murni (EV), tanpa mencakup kendaraan hibrida. Besaran insentif bakal ditentukan berasas jenis baterai nan digunakan, nan dibagi menjadi baterai nikel dan non-nikel.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menambahkan, pemberian insentif kendaraan listrik nantinya bakal dikaitkan dengan program pengembangan motor dan mobil listrik nasional. Pemerintah saat ini tetap mengkaji pemberian insentif tersebut untuk mendorong penjualan sekaligus memperkuat ekosistem industri EV di dalam negeri. Namun, hingga sekarang pemerintah belum mengumumkan keputusan final mengenai corak maupun waktu penerapan insentif tersebut.
Konten ini diolah dengan support AI.
sumber : antara
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·