Bahlil Bakal Relaksasi Batu Bara RI, Produksi Bakal Naik Jadi Berapa?

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa produksi batu bara bakal direlaksasi dari sasaran nan ditetapkan untuk tahun 2026 ini. Menyusul, nilai batu bara tengah melonjak dan pemerintah hendak memanfaatkan momen untuk menjual lebih banyak batu bara.

Meski tidak menyebut secara gamblang berapa sasaran produksi batu bara untuk tahun ini. Bahlil menyebut relaksasi produksi batu bara dalam negeri bisa memberikan untung baik untuk negara, pengusaha, maupun masyarakat.

"Kita tetap bakal memperhatikan tingkat permintaan bumi dan harga. Kalau untuk domestik pasti semuanya kita bakal penuhi," jawab Bahlil saat ditanya berapa sasaran produksi batu bara nasional tahun 2026, ditemui di Gedung DPR RI, dikutip Rabu (10/6/2026).

Memang, awalnya pemerintah berencana untuk memangkas produksi batu bara tahun ini untuk menjaga nilai jual nan condong menurun pada akhir 2025 lalu. Sebelumnya, pemerintah menargetkan produksi batu bara di nomor 600 juta ton per tahun.

"Nah untuk nilai dunia kita bakal memandang jika harganya bagus ya kita bakal melakukan relaksasi nan terukur. Tujuannya apa kita juga mau mendapatkan nilai nan baik dan devisa kita bisa masuk," tambahnya. Pemerintah terus memantau perkembangan kondisi geopolitik dunia terhadap nilai batu bara dunia. "Nanti kita lihat perkembangannya," tandasnya.

Direktur Eksekutif API-IMA, Sari Esayanti, menegaskan bahwa kebijakan relaksasi nan terukur ini sangat krusial untuk memastikan sektor pertambangan tetap handal dan bisa memberikan kontribusi maksimal terhadap perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global.

"Kebijakan relaksasi produksi ini menjadi semakin relevan bagi pelaku upaya di tengah tren penguatan kurs dolar AS saat ini. Di satu sisi, kenaikan dolar memang menguntungkan lantaran transaksi ekspor batu bara menggunakan mata duit dolar, sehingga pendapatan nan dikonversi ke Rupiah bakal meningkat. Namun, di sisi lain, pelaku upaya juga tengah menghadapi beban pembengkakan biaya operasional (operational cost). Kita tahu bahwa komponen utama operasional tambang, seperti bahan bakar, perangkat berat, dan suku cadang, sangat berjuntai pada impor nan harganya terkerek naik akibat kuatnya dolar," ungkap Sari.

Menurut Sari, relaksasi ini memberikan ruang bagi perusahaan untuk mengompensasi tingginya biaya operasional. "Jika memandang situasi nyata di lapangan, tekanan biaya operasional nan tinggi dan penurunan kuota produksi telah membikin beberapa tambang terpaksa menghentikan produksinya. Kebijakan relaksasi dari Kementerian ESDM ini menjadi angin segar nan dapat menjamin keberlanjutan operasi pertambangan dan sangat krusial untuk mencegah potensi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)," tambahnya.

Di samping menyelamatkan kelangsungan industri dan tenaga kerja, IMA meyakini bahwa momentum tingginya nilai komoditas nan dipadukan dengan penguatan dolar AS dan adanya kebijakan relaksasi ini, akan berakibat sangat signifikan terhadap proyeksi penerimaan negara.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News