Bahaya Pola Asuh Otoriter, Anak Jadi Lebih Suka Berbohong dan Mencontek

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Bahaya Pola Asuh Otoriter, Anak Jadi Lebih Suka Berbohong dan Mencontek Ilustrasi(Magnific)

SETIAP orangtua tentu menginginkan anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi nan jujur, berintegritas, dan bertanggung jawab. Untuk mencapai perihal tersebut, tidak sedikit orangtua nan menerapkan pola asuh otoriter dengan patokan nan sangat ketat dan balasan nan keras. Namun, sebuah studi ilmiah terbaru justru mengungkap hasil nan berkebalikan, pola asuh nan terlalu mengekang dan keras membikin anak lebih rentan untuk mendusta dan mencontek.

Penelitian ini dilakukan oleh tim psikolog nan berfokus pada gimana lingkungan family memengaruhi perkembangan moral dan perilaku anak-anak. Para peneliti menemukan bahwa alih-alih membentuk kedisiplinan, patokan nan sangat ketat tanpa disertai ruang obrolan justru menciptakan tekanan mental nan besar pada anak.

Ketika anak-anak tumbuh dalam lingkungan nan menuntut kepatuhan absolut tanpa toleransi terhadap kesalahan, mereka bakal mengembangkan sistem pertahanan diri. Cara paling instan nan mereka temukan untuk menghindari balasan berat alias kemarahan orangtua adalah dengan memanipulasi kebenaran.

Profesor Victoria Talwar, seorang master perkembangan anak terkemuka nan terlibat dalam penelitian sejenis mengenai perilaku tidak jujur pada anak, memberikan pandangannya mengenai kejadian ini. "Ketika orangtua menerapkan patokan nan sangat ketat dan balasan nan keras, anak-anak tidak belajar gimana menjadi jujur. Sebaliknya, mereka belajar gimana menjadi pembohong nan lebih baik agar tidak tertangkap," kata Dr. Talwar.

Dalam penelitian nan dilakukan, anak-anak dari latar belakang pola asuh otoriter menunjukkan keahlian mendusta nan lebih canggih dan meyakinkan dibandingkan dengan anak-anak nan dibesarkan dalam pola asuh demokratis alias penuh kasih sayang (authoritative). Tidak hanya dalam perihal berkata-kata, kecenderungan untuk melakukan curang, seperti mencontek saat ujian alias melanggar patokan secara sembunyi-sembunyi, juga ditemukan lebih tinggi pada golongan anak ini.

Hal ini terjadi lantaran anak tidak menginternalisasi nilai kejujuran itu sendiri. Mereka hanya alim lantaran takut bakal akibat negatif (hukuman), bukan lantaran memahami kenapa sebuah tindakan itu betul alias salah. Begitu pengawasan dari orangtua longgar, anak-anak ini condong melanggar patokan lantaran tidak mempunyai kontrol moral internal nan kuat.

Melalui temuan ini, para mahir menekankan pentingnya pergeseran style pengasuhan. Orang tua disarankan untuk membangun komunikasi dua arah nan terbuka. Dibandingkan memberikan balasan nan intimidatif, menciptakan lingkungan nan kondusif di mana anak berani mengakui kesalahan tanpa rasa takut nan ekstrem terbukti jauh lebih efektif dalam membentuk karakter anak nan jujur dan berintegritas tinggi di masa depan. (EArth/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia