Bahaya Nyata 'Kutukan Mumi': Perdagangan Mumi Ilegal Ancam Kesehatan

Sedang Trending 3 hari yang lalu
 Perdagangan Mumi Ilegal Ancam Kesehatan Mumi Chinchorro di sebuah museum di Cile.(EPA)

PERDAGANGAN dunia jasad manusia nan diawetkan (mummified human remains) sekarang digambarkan para akademisi sebagai "kutukan mumi nan nyata". Aktivitas terlarangan ini memicu akibat kesehatan serius bagi para kolektor hingga petugas jasa pos nan mengantarkannya.

Penelitian tentang jual-beli rahasia bagian tubuh manusia berumur berabad-abad, seperti tangan, kaki, dan kepala, menemukan ancaman mengkhawatirkan dari mikroorganisme dorman dan bahan berbisa nan digunakan untuk mengawetkan jasad.

Artikel ilmiah berjudul The Real Mummy’s Curse: Health Risks Associated With the Sale and Trade of Mummified Remains, nan diterbitkan di International Journal of Cultural Property oleh Cambridge University Press, menggambarkan situasi nan dinilai "suram". Perdagangan semi-terlarang nan sering kali terlarangan ini makin marak melalui media sosial, situs web pribadi, platform e-commerce, dan rumah lelang, tanpa adanya kesadaran bakal akibat kesehatan bagi orang hidup.

Pemeriksaan terhadap 128 unggahan online di platform Meta, situs e-commerce, toko web, dan rumah lelang menemukan banyak kasus penjualan mumi nan menunjukkan tanda-tanda pelapukan biologis. Penjual tidak menyediakan pedoman keselamatan dan sering menggunakan jasa pengiriman pos untuk mengirim bagian tubuh tersebut kepada pembeli.

"Bagian tubuh nan terisolasi, seperti tangan dan kaki, paling sering diidentifikasi, diikuti oleh kepala mumi utuh," tulis para penulis penelitian. "Lebih dari separuh sampel, ialah 51,6%, terdiri dari kepala dalam beragam tingkat kelengkapan dan pengawetan, termasuk kepala mumi utuh alias sebagian, tengkorak dengan jaringan lunak dan/atau rambut, serta tsantsa, nan dikenal sebagai kepala nan dikerdilkan oleh suku Shuar di Peru utara/Ekuador timur."

Proses pemumian melibatkan bahan kimia berbisa untuk menunda pembusukan, termasuk logam berat seperti arsenik, raksa, dan timbal. Selain itu, mumi dapat menampung mikroorganisme dorman. Spora jamur nan tertidur dapat terbang ke udara saat dipindahkan alias terganggu, sehingga membahayakan kesehatan.

Inhalasi spora Aspergillus pernah dikaitkan dengan kematian 10 dari 12 intelektual konservasi nan membuka makam Raja Casimir IV dari Kraków pada 1970-an. Spora ini juga diduga berkontribusi pada kematian Lord Carnarvon, penyokong biaya utama eksplorasi makam Tutankhamun tahun 1923, nan menjadi awal mula mitos "kutukan mumi".

Kirsty Squires, guru besar bioarkeologi manusia di University of Staffordshire, nan mengerjakan riset ini berbareng Dario Piombino-Mascali, Clara Urzì, dan Damien Huffer, menyatakan bahwa para pedagang tampak kurang menyadari ancaman ini.

"Dalam beberapa komentar, mereka mencatat adanya aroma mumi, seperti aroma pembusukan, tetapi beberapa gambar nan mereka unggah sering kali memperlihatkan kepala mumi nan tidak berada di dalam wadah penutup, melainkan di ruang terbuka, misalnya di ruang tamu alias kediaman domestik. Jadi itu bisa sangat berbahaya," kata Squires.

Squires menambahkan bahwa saat menyusun makalah, terdapat gambar sisa-sisa mumi nan mengalami pelapukan parah hanya diletakkan di atas penyangga tanpa penutup kaca, serta tidak disimpan dalam kondisi suhu nan terkontrol.

Studi ini menemukan bahwa ancaman tidak hanya mengintai para pedagang. Mengingat perusahaan pos dan kurir digunakan untuk mengangkut mumi, para pekerja gudang, pengemudi, petugas pusat transportasi, hingga pejabat bea cukai turut berisiko lantaran tidak mengenakan perangkat pelindung diri nan memadai. (The Guardian/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia