Bahaya Hanya Baca Judul Berita, Ini Penjelasannya

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Bahaya Hanya Baca Judul Berita, Ini Penjelasannya ilustrasi.(MI)

SOSIOLOG politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menyoroti ancaman kebiasaan "hanya membaca judul berita" pada generasi muda di Indonesia. Menurut dia, kesimpulan-kesimpulan prematur nan kemudian berkembang menjadi rumor dari kultur membaca buletin hanya pada bagian titel dapat rawan bagi kelangsungan generasi penerus.

"Itu adalah kondisi di mana orang tidak mau secara serius dan mendalam memahami sesuatu. Cukup memandang permukaan, lampau langsung menarik kesimpulan. Itu sangat berbahaya," kata Ubedilah kepada wartawan dalam training jurnalistik tematik nan diselenggarakan oleh Dewan Pers di Jakarta, Kamis (13/8).

Dia menyebut masyarakat, khususnya generasi muda perlu kesabaran, obrolan mendalam serta teliti dalam menilai sesuatu.

"Terjadi di Indonesia, dan itu nan kudu kita benahi. ​Bagaimana kemudian kita melahirkan generasi nan mau sabar mendalami sesuatu hal, mau berbincang secara mendalam, dan mau meneliti, bukan generasi nan hanya membaca titel berita, lampau langsung membikin kesimpulan. Kekhawatiran itu nyata dan sedang terjadi di Indonesia saat ini. Kita kudu mulai membenahi keadaan ini," ujar Ubedilah.

Dalam kesempatan nan sama, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Haris Azhar turut menyinggung mengenai peran media arus utama (mainstream) alias wartawan dalam menyampaikan fakta. Dia menyebut peran tersebut menjadi semakin vital di tengah perkembangan homeless media

"Kalau menurut saya, tugasnya the real media enterprise, ya, kerja dengan standar jurnalistik. nan pertama dan utama adalah mengandalkan fakta. Mengandalkan fakta, otentik arah sumbernya alias sumber informasinya, dan secara berkesinambungan terus-terusan mengawal tuntas suatu informasi," ungkap Haris.

Meski kerap dinilai tidak populis dengan kompleksitas kerja jurnalistik, sambung Haris, peran media arus utama, ialah menghadirkan fakta.

"Tapi, jika misalnya dalam beberapa hal, saya perhatikan, ya, para influencer yang memberitakan itu rujukannya berita-berita kalian (media arus utama) semua. Begitu mereka jeblos, nan dicari siapa? Media-media kalian, ya kan? Bahwa media kalian kadang-kadang enggak populis di tengah masyarakat, biarkan saja. nan penting, Anda menghadirkan fakta, mengedukasi warga, dan mengawal demokrasi," pungkas Haris. (Ant/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia