Badan Geologi Ungkap Bahaya Erupsi Anak Krakatau: Material Pijar-Gas Vulkanik

Sedang Trending 37 menit yang lalu
Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap sejumlah ancaman nan perlu diwaspadai dari aktivitas Gunung Anak Krakatau nan meningkat. Mulai dari lontaran material pijar dan batuan vulkanik hingga gas vulkanik berkonsentrasi tinggi.

Meski demikian, Badan Geologi memastikan erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini tidak berpotensi memicu tsunami seperti nan terjadi pada 2018 lalu.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan ancaman utama nan perlu diwaspadai berada di sekitar pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Bahaya nan paling perlu diwaspadai saat ini adalah lontaran materi pijar dan juga batuan vulkanik, serta abu vulkanik, gas vulkanik berkonsentrasi tinggi, serta kemungkinan aliran material erupsi di sekitar kawah dan tubuh Gunung Anak Krakatau," kata Lana dalam konvensi pers Badan Geologi Kementerian ESDM secara daring, Minggu (6/9).

"Lontaran material ini dapat merusak peralatan nan berada dekat dengan pusat aktivitas dan membahayakan siapa pun nan masuk area terlarang. Potensi berfluktuasi dan meningkat ini lantaran gempa gelombang rendah dan juga hybrid, dominan serta tremor nan signifikan," lanjutnya.

Jenis kegempaan tersebut menunjukkan adanya pergerakan alias pelepasan fluida vulkanik dalam sistem gunung api. Namun, Badan Geologi belum dapat memastikan waktu, skala, maupun corak erupsi berikutnya.

"Meskipun demikian, waktu, besar, dan corak erupsi berikutnya tidak dapat dipastikan secara tepat," ujar Lana.

Badan Geologi pun terus mengevaluasi aktivitas Gunung Anak Krakatau berasas seluruh parameter pemantauan, termasuk aktivitas kegempaan, deformasi, emisi gas, gambaran satelit, serta info lapangan.

Di tengah peningkatan aktivitas tersebut, Lana menegaskan tidak setiap erupsi Gunung Anak Krakatau bakal memicu tsunami.

Ia menjelaskan tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 terjadi terutama akibat keruntuhan sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume besar, bukan semata-mata lantaran kolom erupsi.

Kondisi morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini juga telah berbeda dibandingkan sebelum peristiwa tersebut.

"Sebagian besar tubuh gunung pada sisi tertentu telah runtuh pada 2018, kemudian juga mengalami pertumbuhan dan perubahan morfologi kembali akibat aktivitas erupsi berikutnya. Nah, berasas pemetaan morfologi terbaru, corak dasar tubuh gunung dan kawah utamanya ini relatif tidak menunjukkan perubahan signifikan nan jelas dibandingkan pemetaan sebelumnya," ujar Lana.

Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi 2018 juga tetap relatif kecil. Hasil pertimbangan terhadap pertumbuhan kembali tubuh Gunung Anak Krakatau juga tidak menunjukkan potensi keruntuhan nan dapat memicu tsunami. Pemantauan terhadap aktivitas dan perubahan morfologi tetap dilakukan secara intensif.

Saat ini, Badan Geologi menetapkan rekomendasi agar masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak memasuki alias melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman awan panas, lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat. Warga nan terdampak hujan abu diwajibkan menggunakan masker.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau sendiri meningkat sejak Jumat (2/7), ketika statusnya dinaikkan dari Level II alias Waspada menjadi Level III alias Siaga. Kenaikan status tersebut didasarkan pada peningkatan aktivitas vulkanik dan suplai magma di dalam tubuh gunung.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan