Jakarta -
Pemerintah menargetkan program mandatori B50 terlaksana pada 1 Juli 2026. B50 adalah program bahan bakar nabati (biodiesel) mandatori, terdiri dari campuran 50% biodiesel berbasis minyak kelapa sawit (B100) dan 50% solar (B0)
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan menyampaikan kunci utamanya adalah gimana meningkatkan produktivitas kelapa sawit itu sendiri.
Ia pun mendorong adanya percepatan peremajaan kelapa sawit guna meningkatkan hasil produksi nan bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang salah satu nan kita bayangkan tadi, produktivitas di tanaman kelapa sawit itu perlu terus ditingkatkan. Nah salah satu memang nan didorong oleh pemerintah tentu adalah percepatan penyelenggaraan program peremajaan kelapa sawit," ujar Ferry dalam aktivitas Implementasi Program B50 di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Peremajaan ini krusial bagi perekonomian Indonesia. Ia bilang bahwa industri kelapa sawit, tidak hanya untuk ketahanan energi, tetapi juga memberikan akibat baik bagi perekonomian nasional dan lapangan kerja.
Menurut Ferry tahun 2025 penerapan biodiesel bisa menghemat Rp 133,3 triliun. Angka ini diproyeksikan meningkat menjadi Rp 139,8 triliun pada 2026 seiring dengan penyelenggaraan B50 pertengahan tahun ini.
"Pertama adalah ada penghematan devisa sebesar Rp 133,3 triliun di tahun 2025, dan diproyeksikan bakal sebesar Rp 139,8 triliun di tahun 2026," terangnya.
Ferry juga mengatakan program mandatori biodisel nan telah dijalankan bisa meningkatkan nilai tambah crude palm oil (CPO). Di mana pada 2025, nilai tambah CPO mencapai Rp 20,92 triliun dan diperkirakan naik menjadi Rp 21,94 triliun pada tahun ini.
"Jadi program nan sudah dilakukan untuk mandatori biodiesel di 2025 maupun kelak nan bakal dilakukan di 2026, itu punya nilai nan signifikan terhadap ekonomi kita. Tenaga kerja, ini juga krusial banget gitu ya," jelasnya.
"Dari sisi lapangan kerja itu di 1,88 juta di tahun 2025, dan dengan dinamika nan ada sekarang, kita juga tetap mengharapkan kontribusi dari industri kelapa sawit alias CPO itu di 1,97 juta di tahun 2026," sambungnya.
(hrp/hns)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·