Awas, Stres Kerja Bisa Bikin Pria Muda Berisiko Impoten

Sedang Trending 56 menit yang lalu
Awas, Stres Kerja Bisa Bikin Pria Muda Berisiko Impoten ilustrasi(Magnific)

DI tengah tren meningkatnya penyakit metabolik pada usia muda, para mahir kesehatan kembali memperingatkan akibat jelek tekanan ahli terhadap tubuh. Sebuah studi terbaru nan dipublikasikan dalam International Journal of Clinical Practice mengungkapkan bahwa stres akibat pekerjaan memicu gangguan hormon serius dan disfungsi ereksi alias imptensi pada laki-laki di usia 20-an dan 30-an tahun.

Riset nan melibatkan lebih dari 800 partisipan laki-laki berumur 20 hingga 40 tahun ini menyoroti gimana beban psikologis di instansi dapat merusak sistem metabolisme dan reproduksi laki-laki jauh sebelum usianya senja.

"Stres psikologis di tempat kerja dapat merusak kegunaan ereksi pada laki-laki muda dengan memengaruhi jalur pengelolaan stres tertentu di dalam otak serta menurunkan kadar testosteron," ungkap tim peneliti asal Tiongkok. 

Kaitan Antara Stres, Hormon, dan Impotensi

Tim peneliti dari Universitas Zhejiang dan Kolese Medis Jiangsu menemukan bahwa aspek lingkungan kerja, seperti jam kerja nan panjang, minimnya otonomi, kurangnya support atasan, hingga tekanan dalam pengambilan keputusan, berkontribusi besar terhadap kesehatan seksual pria.

Sebanyak 55% partisipan nan masuk dalam golongan "stres tinggi" mengalami disfungsi ereksi. Angka ini tercatat 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan golongan pekerja dengan tingkat stres rendah.

Ketika stres mendera, tubuh memproduksi hormon kortisol dalam jumlah tinggi. Lonjakan kortisol ini terdeteksi 2 hingga 4 minggu sebelum kadar testosteron para pekerja mulai merosot.

Penurunan testosteron tersebut kemudian disusul oleh timbulnya indikasi disfungsi ereksi dalam rentang waktu satu bulan hingga enam minggu berikutnya.

Dari temuan kronologis tersebut, para mahir mencatat adanya "jendela intervensi" sekitar sepuluh minggu sejak seseorang mulai merasakan peningkatan stres di tempat kerja sebelum kerusakan kegunaan ereksi betul-betul terjadi.

Para peneliti menyarankan agar pendekatan medis ke depannya memadukan asesmen stres psikologis dengan tes hormon secara berkala guna mendeteksi secara awal golongan pekerja nan paling rentan mengalami akibat jelek tersebut.

(DPA/P-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia