Australia dan Finlandia Bisa Jadi Rujukan Indonesia Tangani Kebakaran Hutan

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Peneliti Konservasi Hutan Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yayan Hadiyan mengatakan, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya berjuntai pada pemadaman saat api muncul.

Menurut dia, penemuan dini, pemetaan wilayah rawan, kesiapan personel, hingga koordinasi antarlembaga menjadi bagian krusial untuk mengendalikan kebakaran dan mengurangi dampaknya.

Yayan juga menyebut Australia dan Finlandia sebagai negara nan dapat menjadi rujukan Indonesia dalam penanganan kebakaran hutan, mulai dari sistem komando kejadian hingga pemantauan dan pemetaan akibat kebakaran.

"Kalau terbaik untuk semua jenis kebakaran, rasa belum ada. Tetapi nan kadang jadi rujukan bisa Australia alias Finlandia," kata dia kepada Liputan6.com, Kamis (15/10/2026).

Mengutip laman Department of Biodiversity, Conservation and Attractions (DBCA) pemerintah Australia Barat, penanganan kebakaran rimba di Negara Kanguru tersebut memanfaatkan sistem komando terpadu nan dinamakan Australasian Inter-service Incident Management System (AIIMS), sebuah kerangka manajemen kejadian untuk mengoordinasikan penanganan beragam keadaan darurat, termasuk kebakaran hutan.

Dalam AIIMS, penanganan kejadian dipimpin oleh satu pengendali nan mengarahkan operasi berasas tujuan dan rencana bersama. Sistem ini juga menetapkan pembagian tanggung jawab dan kegunaan secara jelas, dengan prinsip kesatuan komando, pengelolaan berbasis tujuan, serta elastisitas sesuai skala dan kompleksitas kejadian.

Melalui sistem tersebut, pengerahan sumber daya dapat ditingkatkan saat kebakaran meluas dan memerlukan support lintas instansi. Dengan demikian, seluruh pihak dapat bergerak berasas satu rencana penanganan nan terkoordinasi.

Selain memperkuat koordinasi, Australia meningkatkan kesiapsiagaan melalui Seasonal Bushfire Outlook nan diterbitkan secara berkala oleh Australasian Fire and Emergency Service Authorities Council (AFAC).

Prakiraan ini memetakan wilayah berisiko kebakaran lebih tinggi dengan mempertimbangkan cuaca, iklim, curah hujan sebelumnya, suhu, jenis vegetasi, dan kesiapan bahan bakar alami berupa tumbuhan kering.

Informasi tersebut menjadi dasar bagi otoritas untuk menentukan prioritas persiapan, mulai dari perencanaan sumber daya dan kesiapan petugas hingga penyampaian info akibat kepada masyarakat.

Meski demikian, AFAC menegaskan bahwa prakiraan musiman bukan prediksi pasti mengenai letak dan waktu kebakaran. Kebakaran rawan tetap dapat terjadi di wilayah dengan tingkat akibat normal.

Australia juga menerapkan pembakaran terkendali (prescribed burning) di letak dan kondisi tertentu untuk mengurangi penumpukan bahan bakar vegetasi.

Praktik ini direncanakan dengan mempertimbangkan cuaca, tujuan pengelolaan lahan, dan akibat penyebaran api. Di sejumlah wilayah, cultural burning turut melibatkan masyarakat budaya dengan memanfaatkan pengetahuan tradisional dalam pengelolaan api dan lanskap. Penerapannya disesuaikan dengan karakter lingkungan setempat.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita
↑