Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia, Matt Thistlethwaite, menyatakan Australia terbuka untuk kembali mengimpor kakao beserta produk turunannya dari Indonesia.
Thistlethwaite mengatakan rata-rata masyarakat Australia mengkonsumsi sekitar 6 kilogram cokelat per orang setiap tahun. Secara keseluruhan, konsumsi cokelat di Australia mencapai sekitar 160 ribu ton per tahun.
“Namun nan menarik, Australia nyaris tidak memproduksi kakao sendiri. Kami hanya mempunyai sedikit perkebunan kakao nan terkonsentrasi di wilayah Utara Australia, tepatnya di Queensland,” sebut Thistlethwaite dalam aktivitas peluncuran Katalis 2.0 di Raffles Jakarta, Senin (13/7).
Karena itu, dia mengatakan Australia tetap berjuntai pada impor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi cokelat. Biji kakao di impor dari Peru, Papua Nugini, dan sejumlah negara di Afrika, sementara produk cokelat olahan didatangkan dari Eropa dan negara lainnya.
Thistlethwaite pun mengatakan Australia juga mengimpor biji kakao, cocoa butter, dan cocoa paste dari Indonesia. Oleh lantaran itu, dia menilai perdagangan kakao antara kedua negara semestinya dapat terus diperluas.
“Kami mau meningkatkan impor (kakao dan cokelat) tersebut. Indonesia merupakan salah satu produsen kakao terbesar di area sekaligus produsen kakao terbesar keenam di dunia. Oleh lantaran itu, semestinya kita dapat melakukan lebih banyak kerja sama,” tutur Thistlethwaite.
Menurutnya, hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara telah terjalin selama puluhan tahun, kuat, mendalam, dan diyakini bakal semakin erat seiring dimulainya fase baru kerja sama dengan meningkatkan perdagangan dengan satu sama lain.
Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, mengatakan Indonesia sekarang tidak hanya mengekspor bahan baku kakao, tetapi juga telah bisa menghasilkan produk cokelat premium melalui proses hilirisasi.
“Kini bisa menghasilkan produk cokelat premium nan kemudian kami ekspor ke beragam negara, salah satunya Australia,” sebut wanita nan biasa dipanggil Roro dalam kesempatan nan sama.
Menurut Roro, keberhasilan Indonesia dalam menghasilkan produk cokelat premium itu merupakan salah satu contoh kerjasama nan dapat terus diperluas dan diperkuat pada masa mendatang.
“Setidaknya kerja sama dalam konteks nan lebih luas,” ucap Roro.
Adapun Indonesia dan Australia secara resmi meluncurkan Katalis 2.0 pada Senin (13/7), program baru di bawah Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA). Program ini bermaksud untuk memperkuat perdagangan dan investasi secara dua arah dan melanjutkan program Katalis 1.0.
Nilai perdagangan peralatan antara kedua negara meningkat dari USD 7,2 miliar pada 2020 menjadi sekitar USD 13 miliar pada 2025. Kata Thistlethwaite, pemerintah Australia melalui fase baru program ini bakal mengalokasikan biaya sebesar AUD 40 juta dolar.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·