Binti Mufarida
, Jurnalis-Sabtu, 17 Oktober 2026 |09:43 WIB

Modifikasi cuaca di langit Sumsel (Foto: BNPB)
JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) menggunakan dry ice selama dua hari berturut-turut, 15–16 Oktober 2026, untuk mengurangi asap akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel).
Asap karhutla tetap mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang dalam beberapa hari terakhir. Asap tak hanya mengurangi jarak pandang sehingga mengganggu penerbangan, tetapi juga berakibat pada kesehatan warga.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan pesawat untuk operasi modifikasi cuaca diberangkatkan dari Bandara Raden Inten II, Bandar Lampung, Lampung. BNPB mencatat total bahan dry ice nan digunakan selama dua hari mencapai 2,4 ton.
“OMC nan berjalan dua hari tersebut dilakukan dengan 3 sorti dengan total jam terbang selama 7 jam 3 menit,” ungkap Berton, Sabtu (17/10/2026).
Pada sorti pertama, pesawat BNPB menyemai bahan dry ice di sekitar Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Total bahan semai nan digunakan pada pagi hingga siang hari itu sebanyak 800 kilogram.
Berdasarkan hasil pemantauan setelah penyemaian, info Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pukul 13.00 WIB mencatat jarak pandang mencapai 1.000 meter. Sekitar pukul 14.30 WIB, jarak pandang di airport tersebut meningkat menjadi 1.500–2.000 meter.
Berton menjelaskan, secara teori, penyemaian dry ice pada lapisan atmosfer nan mengalami inversi—kondisi ketika lapisan udara di atas lebih hangat daripada lapisan udara di bawahnya—berpotensi memengaruhi struktur lapisan tersebut sehingga mendorong pelemahannya.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·