Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) mengakui sektor hulu industri petrokimia dan plastik tengah berada dalam tekanan. Meski demikian, belum ada pemutusan hubungan kerja (PHK) di kalangan pelaku industri.
Ketua Inaplas, Suhat Miyarso, memastikan tidak ada personil nan melaporkan adanya PHK. Dengan demikian, menurut Suhat, Inaplas belum pernah melaporkan kepada pemerintah mengenai adanya PHK di sektor ini.
“Mengenai PHK, ya tadi saya sampaikan bahwa sampai dengan hari ini tidak ada satu pun personil Inaplas nan melaporkan kejadian PHK,” kata Suhat dalam obrolan Forum Wartawan Industri (Forwin) di Gatot Subroto, Selasa (5/5).
Senada, Wakil Ketua Umum Inaplas Edi Rivai menyebut industri petrokimia memang berkarakter siklikal, sehingga tekanan nan terjadi saat ini tetap dalam fase nan bisa dihadapi tanpa pengurangan tenaga kerja.
“Industri ini punya siklus, dalam kondisi susah seperti sekarang, kami mencari solusi agar tetap bertahan. Sampai saat ini tidak ada PHK dan ke depan juga belum ada proyeksi ke arah sana,” jelasnya.
Namun, Edi mengakui tekanan terhadap industri, khususnya di sektor hulu, semakin terasa. Kondisi ini dipicu oleh kelebihan kapabilitas produksi dunia serta derasnya produk impor dari sejumlah negara, seperti China, Timur Tengah, dan area ASEAN.
Menurut dia, tekanan tersebut sebenarnya sudah berjalan sejak beberapa tahun terakhir, terutama pascapandemi COVID-19. Situasi kian kompleks akibat gejolak geopolitik nan berakibat pada pasokan dan nilai daya global.
Industri petrokimia Indonesia sendiri tetap sangat berjuntai pada impor bahan baku, terutama naphtha. Ketergantungan ini menjadi tantangan ketika terjadi gangguan pasokan global, termasuk dari area Timur Tengah nan selama ini menjadi pemasok utama.
Edy menjelaskan, sekitar 60-70 persen pasokan naphtha di area Asia berasal dari Timur Tengah. Sementara ketergantungan Indonesia apalagi mencapai sekitar 90 persen untuk kebutuhan pabrik cracker di dalam negeri.
“Nah di situasi pada saat perang antara apa Iran dan US-Israel ini, ini membikin situasi itu makin rumit. Karena memang ketidaksiapan semua lini khususnya mengenai ketergantungan (impor) terhadap minyak dan turunannya sampai kan menjadi produk petrokimia,” jelasnya.
Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, Edi menyebut pelaku industri mulai melakukan diversifikasi bahan baku, seperti memanfaatkan LPG dan kondensat sebagai alternatif. Langkah ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan produksi di tengah ketidakpastian global.
“Makanya secara teknologi personil Inaplas dua ini sudah mendiversifikasikan feedstock bahan bakunya mereka ke corak LPG, LPG dan kemudian kondensat,” jelasnya.
Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiyanto menambahkan, Indonesia sebenarnya mempunyai produksi naphtha domestik, namun sebagian besar tetap dialokasikan untuk kebutuhan energi.
Dengan demikian kebutuhan naphtha untuk industri petrokimia didapat dari impor nan kebanyakan dari Timur Tengah. “Mau nggak mau jika naphtha-nya ini di Middle East susah dan di luar kontrol kita, kita kudu mencari pengganti suplai bahan baku pengganti naphtha dan suplai naphtha itu sendiri,” jelasnya.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·