Asing Serbu Surat Utang RI, Purbaya: Harusnya Rupiah Menguat!

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, aliran modal asing sekarang makin deras masuk ke Indonesia. Menurutnya, kondisi ini semestinya menjadi pertanda bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat.

Data Purbaya sampai dengan akhir April 2026, aliran modal asing nan masuk ke Indonesia secara akumulasi telah mencapai Rp 10,4 triliun netonya. Terutama didorong oleh masuknya inflow unik pada April 2026 saja nan senilai Rp 38,5 triliun.

Ia mengatakan, total inflow pada April 2026 itu ditopang oleh biaya penanammodal nan mengalir ke Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 13,4 triliun, meski secara akumulasi tahun melangkah tetap outflow 11,7 triliun. SRBI inflow Rp 42,2 triliun dan tahun melangkah inflow Rp 72 triliun, serta saham nan tetap outflow Rp 17 triliun pada April 2026, dengan total sejak Januari 2026 juga outflow Rp 49,9 triliun.

"Terutama di SBN dan SRBI, itu nan tetap keluar sedikit di saham," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Purbya menuturkan, realisasi pertumbuhan ekonomi nan bisa tumbuh sigap pada kuartal I-2026 sebesar 5,61% semestinya bakal menjadi sentimen positif nan makin membikin penanammodal percaya diri untuk memegang aset investasi portofolio di Indonesia.

Ia pun percaya diri, dengan kondisi inflow ini bakal memperkuat kurs rupiah ke depannya. Meskipun saat ini tekanan rupiah tetap terus bersambung dengan pelemahan mencapai level di atas Rp 17.400/US$.

"Apalagi sekarang mereka memandang fondasi ekonomi kita sekarang bagus, setelah sebelumnya banyak noice kita mau jelek, hancur, mau inilah mau itu, dengan ini harusnya makin banyak nan masuk dan harusnya rupiah bakal menguat sesuai kondisi fundamentalnya," papar Purbaya.

Sebagaimana diketahui, Nilai tukar rupiah terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) usai rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 pada siang ini, Selasa (5/5/2026).

Melansir info Refinitiv, pada pukul 11.15 WIB, rupiah terpantau berada di level Rp17.425/US$ alias terdepresiasi 0,35%.

Pelemahan ini melanjutkan tekanan nan sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan pagi tadi, ketika rupiah dibuka melemah 0,09% di level Rp17.380/US$.

Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) nan melaporkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I-2026 sebesar 5,61% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Secara kuartalan, ekonomi Indonesia terkontraksi 0,77% (quarter-to-quarter/qoq).

Sebagai catatan, konsensus pasar nan dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi/lembaga sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,40% yoy. Sementara secara kuartalan, ekonomi diperkirakan terkontraksi 1,0% qoq. Meski info pertumbuhan ekonomi lebih baik dari ekspektasi, rupiah tetap belum bisa keluar dari tekanan.

(arj/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News