Asap Karhutla Mulai Masuk Jakarta, Polusi Lokal Masih Dominan

Sedang Trending 7 jam yang lalu
Asap Karhutla Mulai Masuk Jakarta, Polusi Lokal Masih Dominan POLUSI JAKARTA TIDAK SEHAT: Kabut polusi udara menyelimuti gedung-gedung tinggi di area Jakarta, Selasa (8/9/2026)(MI/Usman Iskandar)

Asap kebakaran rimba dan lahan (karhutla) dari Kalimantan mulai terpantau memasuki wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat pada Jumat (16/10). Meski demikian, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyebut pencemaran lokal, terutama dari sektor transportasi dan industri, tetap memengaruhi kualitas udara Ibu Kota.

Kepala DLH DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan, hasil pengukuran kualitas udara melalui stasiun pemantau referensi pada 1–14 Oktober 2026 menunjukkan konsentrasi PM2.5 berfluktuasi pada rentang 35–75 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Hingga 14 Oktober, belum terlihat lonjakan signifikan pada parameter pencemar tersebut.

“Pada diagram perubahan dapat dilihat tren harian PM2.5 menunjukkan pola naik turun nan normal nan umumnya tetap dipengaruhi oleh pencemaran lokal di DKI Jakarta, ialah sektor transportasi dan industri. Hingga 14 Oktober, belum ada peningkatan tajam alias signifikan pada konsentrasi parameter pencemar udara kritis tersebut,” kata Dudi dikutip Sabtu (17/10).

Meski asap karhutla mulai terpantau, Pemprov DKI Jakarta bakal memperkuat pengendalian pencemaran udara. Langkah itu mencakup pengurangan emisi dari sumber bergerak, seperti kendaraan bermotor, serta sumber tidak bergerak, termasuk industri dan aktivitas lainnya.

DLH juga memperkuat pemantauan kualitas udara secara waktu nyata melalui penambahan stasiun pemantau kualitas udara (SPKU). 

Pengawasan uji emisi kendaraan bermotor bakal diperluas, termasuk penerapan hukuman bagi kendaraan nan tidak memenuhi baku mutu emisi sesuai ketentuan.

Di sektor industri, DLH mewajibkan industri berisiko tinggi memasang Continuous Emission Monitoring System (CEMS) agar emisi dapat dipantau secara langsung. 

Penyiraman dan penyemprotan jalan utama berbareng Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) juga bakal dilakukan ketika kualitas udara memburuk untuk menekan debu jalan sebagai salah satu sumber partikulat di area perkotaan.

“Kami juga mendorong peralihan ke transportasi nan lebih ramah lingkungan, termasuk melalui Instruksi Gubernur Nomor 6 Tahun 2025 nan mewajibkan ASN menggunakan transportasi umum setiap hari Rabu,” ujar Dudi.

DLH turut mengimbau masyarakat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, memanfaatkan transportasi publik, dan tidak membakar sampah secara terbuka. Warga nan mengalami indikasi gangguan pernapasan diminta segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Sebelumnya, Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto mengatakan, gambaran satelit Himawari-9 pada Jumat pukul 10.00 WIB menunjukkan sebaran asap karhutla dari Kalimantan telah mencapai wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Menurut dia, asap tersebut baru kali pertama terpantau memasuki wilayah Jakarta.

Namun, keberadaan asap di lapisan atmosfer belum serta-merta menunjukkan peningkatan konsentrasi polutan di permukaan. Karena itu, pemantauan tetap diperlukan untuk memastikan dampaknya terhadap kualitas udara nan dihirup masyarakat.

“Jadi, dari gambar (citra satelit) tersebut kita memandang arah pergerakan asap di Jawa itu bergerak ke arah tenggara hingga barat, sehingga perlu dipantau terus, apakah konsentrasi nan di Jakarta ini betul-betul meningkat di permukaan, alias hanya melintas di lapisan atmosfer atas,” kata Guswanto, Jumat.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menginstruksikan Dinas Kesehatan menyiagakan rumah sakit dan puskesmas untuk mengantisipasi akibat penurunan kualitas udara, termasuk akibat jangkitan saluran pernapasan akut (ISPA). Pemprov DKI juga menyiapkan support bagi penduduk terdampak, termasuk nan memerlukan peralatan untuk membantu gangguan pernapasan.

“Saya sudah memerintahkan 31 rumah sakit, 44 puskesmas, 292 pembantu puskesmas sekarang ini sudah disiagakan untuk menangani perihal nan berangkaian dengan pengaruh dari kondisi cuaca ini,” kata Pramono, Jumat.(H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑