Medan, CNN Indonesia --
Seluruh wilayah di Sumatera Utara diselimuti kabut asap dari kebakaran rimba dan lahan (karhutla) kiriman dari Sumatra Selatan dan Kalimantan. Untuk mengurangi asap nan semakin pekan dilakukan modifikasi cuaca agar turun hujan.
Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mengatakan, modifikasi cuaca dilakukan mulai Kamis (15/10/2026) hingga Jumat (16/10/2026). Kawasan Danau Toba menjadi salah satu wilayah nan menjadi sasaran awal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hari ini sampai besok kami juga sudah mencoba untuk modifikasi cuaca agar bisa menurunkan hujan di wilayah Sumatera Utara, hari ini kami coba di area Danau Toba," kata Bobby, Kamis (15/10).
Menurut Bobby, upaya modifikasi cuaca tidak hanya dilakukan di area Danau Toba. Sejumlah wilayah lain di Sumut juga bakal menjadi sasaran secara bertahap, dengan angan hujan dapat membantu mengurangi konsentrasi asap
"Untuk wilayah lainnya di beberapa wilayah di Sumatera Utara bakal dilakukan secara bertahap," ucapnya.
Selain mengupayakan modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan, Bobby mengaku telah berkomunikasi dengan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru untuk membahas langkah lain dalam menangani kabut asap. Salah satu metode nan dibicarakan adalah penggunaan dry ice alias es kering.
"Tadi sudah komunikasi dengan Gubernur Sumatera Selatan nan hari ini juga sudah membikin dry ice mengangkat asapnya biar bisa naik, tidak rawan asapnya turun ke darat, melalui teknologi nan ada," ujarnya.
Metode dry ice disebut bakal digunakan jika modifikasi cuaca tidak sukses menurunkan hujan. Langkah itu diambil untuk memastikan aktivitas masyarakat tidak terganggu akibat asap.
"Kalau besok upaya penurunan hujan di beberapa wilayah di Sumatera Utara berhasil, mungkin ada beberapa nan tidak berhasil, asapnya tetap tinggi kami bakal coba beragam upaya memastikan asap nan ada di Sumatera Utara tidak mengganggu aktivitas sehari-hari kita semua," katanya.
Kabut asap nan menyelimuti sejumlah wilayah di Sumut semakin mengganggu jarak pandang. Kabut asap ini disebut merupakan kiriman dari wilayah Sumatera Bagian Selatan dan Kalimantan nan terbawa oleh pergerakan massa udara.
Kepala BBMKG Wilayah I Medan, Hendro Nugroho mengatakan berasas pemantauan pada 15 Oktober 2026, kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera Utara berada dalam kategori sedang hingga tidak sehat.
"Hasil pengamatan Stasiun Meteorologi Kualanamu, Stasiun Meteorologi Aek Godang, dan Stasiun Meteorologi Silangit pada 15 Oktober 2026 pukul 09.00 WIB juga menunjukkan penurunan jarak pandang berkisar antara 1-3 km," ujarnya.
(fnr/fra)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·