Asal Usul Sungai Eufrat Terungkap: Terbentuk 1,6 Juta Tahun Lalu, Kini Mengering

Sedang Trending 4 jam yang lalu
Peziarah Muslim Syiah mendinginkan diri di sungai Efrat, saat dalam perjalanan menuju Kerbala di Najaf, Irak, Rabu (14/9/2022). Foto: Thaier Al-Sudani/Reuters

Sungai Eufrat telah membantu menopang kehidupan manusia selama ribuan tahun. Pertanian, kota-kota besar, hukum, kepercayaan, pengetahuan pengetahuan, hingga peperangan sebagian besar fondasi peradaban modern berakar dari area nan dialiri sungai ini.

Meski mempunyai warisan sejarah nan sangat besar, para intelektual selama ini belum mencapai kesepakatan mengenai gimana dan kapan Sungai Eufrat terbentuk. Kini, sebuah studi nan terbit di jurnal Nature Geoscience akhirnya sukses mengungkap jawabannya.

Sungai Eufrat mengalir sepanjang sekitar 3.000 kilometer melintasi Turki, Suriah, dan Irak sebelum bermuara ke Teluk Persia. Bersama sungai saudaranya, Tigris, Eufrat membentuk sistem sungai terbesar di Asia Barat.

Untuk menelusuri asal-usul sungai tersebut, para peneliti menganalisis topografi modern area itu dan mengombinasikannya dengan teknik refleksi seismik nan memungkinkan mereka memandang struktur geologi di bawah permukaan bumi.

Studi ini dilakukan oleh Chevron, perusahaan daya nan mempunyai kepentingan untuk memahami persediaan minyak dan gas alam nan tersimpan di bawah lapisan pengetahuan bumi Timur Tengah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Eufrat pada masa silam sebenarnya terdiri dari dua sistem sungai nan terpisah, ialah Palaeo-Karasu dan Palaeo-Murat, nan mengalir melintasi wilayah Anatolia alias Turki modern saat ini.

Peta Negara Irak nan dilalui Sungai Efrat dan Tigris. Foto: olenadesign/Shutterstock

Kedua sungai purba tersebut awalnya bermuara ke danau-danau dangkal di daratan, sebelum akhirnya mengalir ke arah selatan menuju Cekungan Mediterania.

Namun, kondisi Bumi saat itu sangat berbeda dibandingkan sekarang. Sekitar 5 hingga 6 juta tahun lalu, ketika kedua sungai purba tersebut tetap mengalir, Laut Mediterania nyaris sepenuhnya mengering dan berubah menjadi hamparan dataran garam nan luas. Fenomena langka ini dikenal sebagai Krisis Salinitas Messinian (Messinian Salinity Crisis).

Sekarang, bukti pengetahuan bumi menunjukkan bahwa kedua sungai purba itu membawa debit air nan lebih besar dibandingkan campuran Sungai Tigris, Eufrat, dan Nil saat ini. Lebih menarik lagi, seluruh aliran tersebut mengalir ke wilayah nan jauh lebih mini dibandingkan wilayah aliran Sungai Eufrat modern.

Menurut para peneliti, satu-satunya penjelasan nan masuk logika adalah bahwa area tersebut dulu jauh lebih basah dan mempunyai bentang alam nan lebih bergunung-gunung dibandingkan sekarang.

Perubahan besar terjadi sekitar 3,6 juta tahun lampau akibat aktivitas tektonik di Patahan Anatolia Timur (East Anatolian Fault). Pergerakan kerak bumi itu mengubah arah aliran kedua sungai purba tersebut, menjauhkannya dari Laut Mediterania dan mengarahkannya ke tenggara menuju Lempeng Arab.

Sekitar 1,6 juta tahun lalu, proses perubahan nan berjalan perlahan namun dramatis itu akhirnya membentuk Sungai Eufrat seperti nan dikenal saat ini.

Di kemudian hari, wilayah nan terletak di antara Sungai Tigris dan Eufrat berkembang menjadi salah satu area paling krusial dalam sejarah manusia. Daerah ini dikenal sebagai Fertile Crescent alias Bulan Sabit Subur lantaran tanahnya nan kaya dan sangat produktif.

Kondisi Sungai Efrat terkini nan semakin mengering. Foto: John Wreford/Shutterstock

Di sinilah sejumlah peradaban besar awal bumi berkembang, termasuk bangsa Sumeria, Babilonia, dan Asyur. Kota-kota mereka melahirkan beragam pencapaian penting, mulai dari sistem tulisan, matematika, astronomi, hingga seni.

Sayangnya, area nan dulu begitu subur sekarang menghadapi ancaman serius. Sistem Sungai Tigris-Eufrat mengalami penyusutan dengan laju nan mengkhawatirkan. Sejumlah perkiraan apalagi menyebut sungai-sungai tersebut bisa menghilang pada 2040 akibat penurunan volume air dan kekeringan nan dipicu perubahan iklim.

Dalam Kitab Wahyu di Alkitab, mengeringnya Sungai Eufrat disebut sebagai pertanda datangnya akhir era dan menjadi jalan bagi konfrontasi terakhir antara kebaikan dan kejahatan.

Sains tentu tidak sampai memprediksi kiamat. Namun, kondisi Sungai Eufrat saat ini bisa menjadi salah satu indikasi nyata dari krisis lingkungan dunia nan sedang berlangsung.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan