
Ilustrasi.
JENEWA – Amerika Serikat (AS) menuduh Beijing melakukan uji coba nuklir rahasia pada 2020, dan menyerukan perjanjian pengendalian senjata baru nan lebih luas nan melibatkan China serta Rusia.
Tuduhan tersebut dilayangkan dalam konvensi perlucutan senjata global, Jumat (6/2/2026), menyoroti ketegangan serius antara Washington dan Beijing pada momen krusial dalam pengendalian senjata nuklir. Hal ini juga terjadi sehari setelah perjanjian New START, nan membatasi penempatan rudal dan hulu ledak AS dan Rusia, berakhir.
"Saya dapat mengungkapkan bahwa pemerintah AS mengetahui bahwa China telah melakukan uji coba ledakan nuklir, termasuk mempersiapkan uji coba dengan daya ledak nan ditentukan dalam ratusan ton," kata Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Pengendalian Senjata dan Keamanan Internasional, Thomas DiNanno, kepada Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa, sebagaimana dilansir Reuters.
DiNanno mengatakan bahwa militer Tiongkok "berupaya menyembunyikan pengetesan dengan mengaburkan ledakan nuklir lantaran mereka menyadari bahwa pengetesan ini melanggar komitmen larangan uji coba. Tiongkok telah menggunakan 'decoupling', sebuah metode untuk mengurangi efektivitas pemantauan seismik, guna menyembunyikan aktivitas mereka dari dunia."
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·