AS Tambah 162 Ribu Lapangan Kerja

Sedang Trending 54 menit yang lalu
Ilustrasi Pasar Tenaga Kerja di AS. Foto: FOTOGRIN/Shutterstock

Amerika Serikat (AS) menambah 162.000 lapangan kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) pada Agustus 2026. Pertumbuhan tersebut melampaui seluruh proyeksi dalam survei Bloomberg, sementara tingkat pengangguran tetap berada di level 4,1 persen. Dikutip dari Bloomberg, Sabtu (5/9), Data Bureau of Labor Statistics (BLS) nan dirilis Jumat (4/9) juga menunjukkan penurunan jumlah lapangan kerja pada Juli direvisi lebih tinggi. Laporan ini menunjukkan pasar tenaga kerja tetap berkekuatan di tengah ketidakpastian akibat perang Iran dan tekanan inflasi. Pertumbuhan lapangan kerja pada Agustus utamanya ditopang pemulihan sektor rekreasi dan perhotelan setelah mengalami penurunan besar pada Juni dan Juli. Sektor pendidikan pemerintah wilayah juga menambah sekitar 42.000 lapangan kerja setelah memangkas banyak posisi pada bulan sebelumnya. Pergerakan tersebut condong volatil pada musim panas lantaran sebagian tenaga pengajar keluar dari daftar penghasilan sebelum kembali bekerja saat tahun aliran baru dimulai. Lapangan kerja manufaktur mencatat pertumbuhan terbesar sejak 2023. Sementara itu, sektor bangunan menambah pekerjaan terbanyak sejak Januari. Pembangunan pusat info menjadi salah satu aspek nan dinilai mendorong permintaan tenaga kerja bangunan sepanjang tahun ini. Kemudian sektor aktivitas finansial dan info nan dinilai rentan terhadap pengurangan tenaga kerja akibat perkembangan kepintaran buatan alias artificial intelligence (AI) secara kumulatif kehilangan 34.000 posisi. Tingkat partisipasi angkatan kerja juga meningkat tipis menjadi 61,6 persen pada Agustus. Angka menjadi kenaikan pertama dalam nyaris setahun. Namun, tingkat partisipasi pekerja usia produktif 25-54 tahun tetap di 83,4 persen. Rata-rata bayaran per jam naik 0,3 persen dibandingkan Juli dan meningkat 3,1 persen secara tahunan. Pertumbuhan tahunan tersebut menjadi nan paling lambat sejak 2021. Sementara itu, rata-rata jam kerja meningkat ke level tertinggi dalam lebih dari dua tahun. Kondisi ini turut mendorong kenaikan penghasilan mingguan dan berpotensi menopang konsumsi masyarakat AS dalam beberapa bulan mendatang. Ekonom senior Vanguard Adam Schickling menilai pasar tenaga kerja AS menunjukkan kekuatan dalam jangka pendek, meski tetap terdapat kekhawatiran struktural dalam jangka panjang. “Pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda kekuatan siklis jangka pendek, apalagi saat kekhawatiran struktural jangka panjang tetap ada,” kata Schickling dikutip dari Bloomberg, Sabtu (5/9). Menurut dia, laporan ketenagakerjaan tersebut belum cukup untuk mengubah pandangan Federal Reserve (The Fed) secara signifikan. Fokus bank sentral AS tetap bakal tertuju pada perkembangan inflasi. Rilis info ketenagakerjaan tersebut turut memengaruhi pasar keuangan. Imbal hasil Treasury AS tenor dua tahun naik, sementara indeks S&P 500 melemah lantaran penanammodal meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku kembang pada pertemuan The Fed 15-16 September. Menanggapi rilis laporan tersebut, Presiden Donald Trump memberikan komentar di media sosial dan mendesak Fed untuk memangkas suku bunga. “Dewan Fed, dengan pemimpin barunya nan hebat, kudu makin bijak - JADILAH PATRIOT untuk suatu perubahan,” ujar Trump. “Suku kembang tinggi menempatkan A.S. pada posisi nan sangat tidak menguntungkan, dan saya tidak bakal membiarkan itu terjadi!,” tambahnya. Data lain menunjukkan pasar tenaga kerja tetap berada dalam mode perekrutan rendah dan pemecatan rendah (low-hire, low-fire). Lowongan pekerjaan naik tipis pada bulan Juli dan pemutusan hubungan kerja (PHK) menurun, mengindikasikan permintaan tenaga kerja tetap stabil di tingkat nan moderat. Data ADP Research menunjukkan perusahaan-perusahaan AS menambah lapangan kerja dengan laju nan lebih moderat pada bulan Agustus, menandakan adanya perlambatan momentum perekrutan. Ketua Fed Kevin Warsh, dalam pidatonya minggu lampau di Jackson Hole, Wyoming, menyatakan dia memandang pasar tenaga kerja cukup stabil dan konsisten dengan kondisi kesepakatan kerja penuh (full employment).

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan