Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menuding Iran memanfaatkan Selat Hormuz sebagai perangkat tekanan terhadap dunia. Washington menilai upaya Teheran mengontrol jalur pelayaran vital itu berpotensi mengguncang sistem perdagangan global.
Pernyataan ini muncul di tengah laporan bahwa Iran menawarkan skema baru kepada AS, termasuk membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan konflik, namun dengan syarat pembahasan penundaan program nuklir. Rubio menegaskan AS tidak bakal menerima konsep "pembukaan" selat nan dikendalikan Iran.
"Jika nan mereka maksud dengan membuka selat adalah kudu izin Iran alias bayar mereka... itu bukan membuka selat," ujarnya dalam wawancara dengan Fox News, dikutip Rabu (29/4/2025).
Ia juga menolak keras kemungkinan Iran menentukan kapal mana nan boleh melintas alias mengenakan biaya di jalur internasional tersebut. Menurutnya, langkah itu sama saja memberi Teheran perangkat untuk menekan ekonomi global.
Rubio memperingatkan, jika praktik tersebut dinormalisasi, dampaknya tidak hanya terjadi di Timur Tengah tetapi juga bisa menjadi preseden global.
"Ini bukan sekadar rumor regional. Ini menyangkut patokan dunia," tegasnya.
Bahkan, dia menyebut Selat Hormuz setara dengan "senjata nuklir ekonomi" nan coba Iran gunakan terhadap dunia.
Ketegangan di Selat Hormuz sendiri berakibat besar terhadap pasar energi. Jalur ini diketahui mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia, sehingga gangguan sedikit saja bisa memicu gejolak nilai global.
Di sisi lain, situasi di lapangan tetap belum stabil. Lalu lintas kapal di area tersebut sempat terganggu akibat bentrok dan blokade, meski ada indikasi pergerakan tanker mulai kembali terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Gedung Putih mengonfirmasi Presiden AS Donald Trump telah meninjau proposal Iran. Namun, laporan The New York Times menyebut Washington belum puas, terutama lantaran tuntutan utama AS agar Iran menghentikan program nuklirnya belum dipenuhi.
Sementara itu, Iran tetap membantah mempunyai ambisi senjata nuklir dan menolak tuntutan untuk membongkar programnya. Kondisi ini membikin Selat Hormuz tetap menjadi titik panas sekaligus "kartu tekanan" utama dalam bentrok geopolitik nan meluas.
(tfa/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·