Jakarta, CNBC Indonesia - Dorongan Amerika Serikat untuk membentuk koalisi internasional demi membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz menandai eskalasi baru dalam bentrok nan belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sementara nilai minyak bumi melonjak tajam dan menekan ekonomi global.
Menurut kabel diplomatik Departemen Luar Negeri AS nan dilihat Reuters, Washington sekarang aktif membujuk negara-negara lain berasosiasi dalam upaya kolektif guna memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Jalur laut vital tersebut tetap tertutup dua bulan setelah perang nan dipicu serangan campuran AS-Israel terhadap Iran.
Penutupan selat itu telah menghalang sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia, memicu lonjakan nilai daya dunia dan meningkatkan kekhawatiran bakal potensi perlambatan ekonomi dunia.
Upaya diplomatik untuk mengakhiri bentrok sejauh ini menemui jalan buntu. AS mencoba memecah kebuntuan tersebut melalui blokade laut terhadap ekspor minyak Iran, nan menjadi tulang punggung ekonomi Teheran.
Menurut laporan Axios, dii tengah mandeknya pembicaraan, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima pengarahan pada Kamis (30/4/2026) mengenai rencana serangkaian serangan militer baru terhadap Iran, dengan angan dapat memaksa Teheran kembali ke meja perundingan.
Prospek eskalasi ini langsung berakibat pada pasar energi. Harga minyak Brent sempat menembus US$125 per barel, level tertinggi dalam lebih dari empat tahun, sebagian dipicu aspek teknis menjelang jatuh tempo kontrak.
Sejak awal tahun, nilai Brent telah melonjak lebih dari dua kali lipat, mencapai titik tertinggi sejak Maret 2022, nan kemudian mendorong inflasi dan meningkatkan nilai bahan bakar di beragam negara.
Iran sendiri bersikeras bakal terus mengganggu lampau lintas di Selat Hormuz selama tetap berada di bawah ancaman. Sikap ini membuka potensi gangguan pasokan daya lebih lanjut dari area Timur Tengah, di tengah bentrok nan telah menewaskan ribuan orang.
Teheran apalagi memperingatkan bakal melakukan "tindakan militer nan belum pernah terjadi sebelumnya" jika blokade AS terhadap kapal-kapal nan mengenai dengan Iran terus berlanjut.
Di sisi lain, Trump kembali menegaskan posisi Washington mengenai rumor nuklir.
"Mereka tidak tahu gimana menandatangani kesepakatan non-nuklir. Mereka sebaiknya segera berpikir cerdas!" tulisnya di media sosial, tanpa menjelaskan lebih lanjut corak kesepakatan nan dimaksud. Unggahan tersebut disertai gambar dirinya dengan kacamata hitam dan senapan mesin, bertuliskan "No more Mr. Nice Guy."
Saling ancam antara Washington dan Teheran berjalan di ruang publik, sementara di kembali layar, Pakistan berupaya meredam eskalasi dengan memfasilitasi pertukaran pesan antara kedua pihak mengenai kemungkinan kesepakatan.
Seorang pejabat Gedung Putih menyebut Trump juga telah berbincang dengan para pelaksana industri minyak. Dalam pertemuan itu dibahas langkah-langkah nan telah diambil pemerintah untuk menstabilkan pasar minyak global, termasuk opsi mempertahankan blokade selama berbulan-bulan jika diperlukan, sembari meminimalkan dampaknya bagi konsumen Amerika.
(luc/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·