AS-Iran Chaos, Kapal Negara Ini Nekat Tembus Jalur 'Maut' Hormuz

Sedang Trending 57 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG) asal Qatar mulai berlayar menuju Selat Hormuz pada Sabtu (9/5/2026). Langkah itu terjadi di tengah kembali memanasnya bentrok antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Data pelayaran LSEG nan dikutip Reuters menunjukkan kapal tersebut bergerak menuju Pakistan setelah mendapat persetujuan dari Iran. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan antara Iran, Qatar, dan Pakistan nan saat ini berkedudukan sebagai mediator perang.

Jika perjalanan itu sukses diselesaikan, maka kapal tersebut bakal menjadi tanker LNG Qatar pertama nan melintasi Selat Hormuz sejak perang pecah pada akhir Februari lalu. Jalur laut itu sebelumnya praktis lumpuh akibat blokade dan bentrok militer antara AS dan Iran.

Meski kapal LNG mulai kembali melintas, situasi di area Teluk tetap jauh dari stabil. Pemerintah AS hingga sekarang tetap menunggu jawaban Iran atas proposal terbaru Washington untuk mengakhiri perang nan sudah berjalan lebih dari dua bulan.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington berambisi mendapat respons sigap dari Teheran. Namun hingga Sabtu, belum ada tanda-tanda Iran bakal menerima proposal tersebut.

Rubio juga berjumpa Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman al-Thani di Miami untuk membahas stabilitas Timur Tengah.

"Kami perlu terus bekerja sama untuk mencegah ancaman dan meningkatkan stabilitas serta keamanan di seluruh Timur Tengah," kata ahli bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott, dikutip Minggu (10/5/2026).

Di sisi lain, bentrok sporadis tetap terjadi di sekitar Selat Hormuz. Kantor buletin semi-resmi Iran, Fars, melaporkan pasukan Iran dan kapal militer AS kembali terlibat kontak pada Jumat.

Militer AS menyatakan telah menyerang dua kapal nan mengenai Iran dan memaksa kapal tersebut berbalik arah setelah jet tempur AS menargetkan cerobong asap kapal.

Sebelum perang pecah, sekitar seperlima pasokan minyak bumi melewati Selat Hormuz. Karena itu, setiap eskalasi di jalur tersebut langsung memicu kekhawatiran terhadap pasokan daya dunia dan ekonomi dunia.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga mengumumkan "Project Freedom", misi pengawalan kapal di Selat Hormuz. Namun program itu dihentikan hanya dalam 48 jam setelah Iran meningkatkan serangan di area Teluk.

Iran sendiri menuding AS justru merusak kesempatan diplomasi. "Setiap kali solusi diplomatik ada di meja perundingan, AS memilih petualangan militer nan gegabah," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.

(tfa/tfa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News