Feby Novalius
, Jurnalis-Kamis, 12 Februari 2026 |17:46 WIB

Pemanfaatan rimba mulai bergerak ke arah baru. (Foto:Okezone.com)
JAKARTA – Pemanfaatan rimba mulai bergerak ke arah baru. Tidak lagi semata bertumpu pada produksi kayu, pengelolaan rimba sekarang diarahkan pada pengembangan hasil rimba bukan kayu, jasa lingkungan, karbon, hingga keanekaragaman hayati melalui pendekatan berbasis bentang alam seperti nan diterapkan di area Wehea–Kelay, Kalimantan Timur.
Ketua Umum APHI Soewarso mengatakan, pengembangan Multi Usaha Kehutanan (MUK) berbasis bentang alam menjadi jawaban atas tantangan menurunnya keahlian rimba alam dalam beberapa tahun terakhir.
“Melalui MUK, pemanfaatan rimba tidak hanya bertumpu pada kayu, tetapi juga dikembangkan melalui hasil rimba bukan kayu, jasa lingkungan, karbon, dan biodiversitas,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).
Menurut Soewarso, APHI berbareng para pemegang PBPH dan pemangku kepentingan lainnya terus mendorong model upaya kehutanan nan terintegrasi dengan perhutanan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Dirinya menegaskan bahwa pendekatan lanskap juga membuka kesempatan penguatan akses pasar, pembiayaan hijau, serta pengembangan komoditas unggulan wilayah nan dapat meningkatkan daya saing industri kehutanan nasional.
“Dengan kerjasama nan kuat, sektor kehutanan dapat tumbuh secara berkepanjangan sekaligus memberikan faedah ekonomi nan nyata bagi masyarakat,” katanya.
Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Herlina Hartanto menilai, komitmen enam konsesi di Wehea–Kelay merupakan langkah awal krusial dalam membangun tata kelola lanskap nan seimbang antara kepentingan ekonomi dan konservasi.
“Pengembangan MUK skala bentang alam membuka ruang kerjasama antar konsesi, antar desa, dan para pihak lainnya, sehingga upaya konservasi dan pembangunan ekonomi dapat melangkah secara harmonis,” ujarnya.
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·