Jakarta, CNBC Indonesia - Setidaknya enam ledakan luar biasa secara beruntun mengguncang area dekat Istana Kepresidenan Al-Maashiq nan digunakan oleh pemerintah sah Yaman di kota pelabuhan Aden pada hari Kamis. Insiden mematikan ini menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai enam lainnya, di mana golongan militan Houthi nan didukung Iran langsung mengeklaim bertanggung jawab penuh atas serangan tersebut.
Mengutip Asharq Al Awsat, Jumat (16/10/2026), serangan langsung terhadap kompleks istana ini merupakan kejadian nan sangat langka di tengah eskalasi pertempuran memanas antara milisi dan koalisi ketua Arab Saudi. Rentetan ledakan tersebut seketika memicu kepanikan luar biasa di kalangan masyarakat sekitar nan langsung berlarian melarikan diri dari letak kejadian.
Seorang pejabat keamanan mengungkapkan bahwa dua ledakan terjadi tepat di puncak bukit dekat istana, sementara dua ledakan lainnya menghantam area dekat gerbang keamanan. Menurut laporan instansi buletin SABA nan berbasis di Aden, pihak pemerintah telah mengonfirmasi bahwa Houthi melancarkan serangan sadis itu menggunakan kombinasi rudal dan pesawat nirawak (drone).
Merespons serangan ini, Kementerian Informasi Yaman segera memastikan keselamatan Perdana Menteri Shaya Al Zindani beserta jejeran menterinya. Pejabat pemerintah menyebut bahwa sebagian besar pemimpin Yaman nan tinggal di pengasingan maupun di Aden berada dalam kondisi kondusif lantaran mereka memang sudah tidak lagi mengadakan pertemuan permanen di dalam istana demi mengantisipasi ancaman semacam itu.
Ketua Dewan Kepemimpinan Kepresidenan Dr. Rashad Al Alimi langsung menghubungi para menteri pascaserangan. Ia menegaskan bahwa pengeboman istana ini adalah perpanjangan dari strategi teror milisi nan tanpa pandang bulu menargetkan bandara, akomodasi minyak, hingga objek sipil di Yaman dan Arab Saudi, nan secara nyata menakut-nakuti keamanan regional dan jalur perairan.
"Saya menginstruksikan otoritas militer dan keamanan mengenai untuk mengambil tindakan tegas guna melindungi lembaga negara dan merespons sumber ancaman," tutur Al Alimi
Senada dengan perihal tersebut, Kabinet Yaman merilis pernyataan nan menegaskan bahwa serangan ini semakin menyingkap pendekatan teroris Houthi. Mereka berjanji bahwa teror ini tidak bakal menyurutkan langkah pemerintah untuk terus memulihkan negara dan mengakhiri kudeta melalui Operasi Fajar Yaman (Dawn of Yemen Operation).
Kabinet juga mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi internasional untuk mengambil sikap tegas, menekan Houthi agar berakhir menargetkan sipil, dan menuntut pertanggungjawaban para pelaku.
"Masa depan Yaman tidak bakal disandera oleh milisi nan mengangkat senjata melawan rakyatnya, menargetkan keamanan tetangganya, dan mengandalkan kekerasan untuk menutupi penolakan Yaman terhadap proyek kudeta mereka," tegasnya.
Di wilayah lain, eskalasi pertempuran ini telah membangkitkan kembali hantu perang kerabat nan menghancurkan setelah empat tahun berada dalam situasi nan relatif tenang. Pusat krisis terparah sekarang berada di kota Taiz nan tengah dikepung ketat oleh Houthi. Penduduk di kota terbesar ketiga di Yaman itu mulai kehabisan kebutuhan pokok, nilai peralatan melambung tak terkendali, dan pompa-pompa bensin kosong melompong. Program Pangan Dunia (WFP) apalagi memperingatkan bahwa mereka sekarang tidak dapat lagi menjangkau lebih dari 600.000 orang di Taiz nan hidupnya berjuntai pada support kemanusiaan.
Dalam konvensi pers pada Kamis malam di Taiz, Kementerian Kesehatan mengumumkan info mengerikan di mana 120 orang tewas dan 307 lainnya terluka dalam pertempuran nan tercatat hingga 5 Oktober, dengan kebanyakan korban jatuh di wilayah Taiz, Saada, dan Jawf.
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) juga menyebut Taiz sebagai wilayah nan menanggung beban korban tertinggi di negara itu. Seorang masyarakat berjulukan Fathiyya Mohamed Al Mugahed menceritakan penderitaannya saat mencari tepung, gas untuk memasak, dan bahan bakar nan tak kunjung dia temukan.
"Houthi telah mengepung kami dari segala sisi. Proyektil adalah satu-satunya nan kami terima dari mereka," pungkas Al Mugahed.
(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·