Apindo Tegaskan Pentingnya Langkah Preventif Guna Tekan Gelombang PHK

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Apindo Tegaskan Pentingnya Langkah Preventif Guna Tekan Gelombang PHK Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam.(Dok. Antara)

ASOSIASI Pengusaha Indonesia (Apindo) menekankan pentingnya langkah preventif sebagai strategi utama untuk menekan potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia. Hal ini merespons dinamika geopolitik dan geoekonomi dunia maupun nasional nan kian menantang bagi bumi usaha.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, menyatakan bahwa langkah preventif memungkinkan pemetaan kondisi perusahaan secara lebih dini. Menurutnya, mediasi semestinya sudah dilakukan ketika sebuah perusahaan menunjukkan tren penurunan untung selama dua hingga tiga tahun berturut-turut.

“Ini agar kita bisa mapping kondisi perusahaan-perusahaan itu. Kita berambisi langkahnya lebih preventif. Jadi perusahaan juga sudah dimediasi, sehingga ini menjadi langkah untuk membantu perusahaan. Tapi jika sudah saatnya melakukan PHK, kita juga kudu memastikan pekerja mendapatkan hak-haknya,” ujar Bob di Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Fokus pada Masalah Hulu dan Deregulasi

Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, menambahkan bahwa keberadaan Satuan Tugas (Satgas) PHK buatan pemerintah perlu didukung dengan penyelesaian masalah dari tingkat hulu ke hilir. Apindo saat ini tengah memfokuskan perhatian pada upaya debottlenecking dan deregulasi untuk mengurai halangan industri.

“Yang kudu kita lihat adalah apa penyebab PHK dan masalah di hulunya itu apa. Kami sudah memetakan isu-isu prioritas krusial nan kudu segera diselesaikan melalui debottlenecking dan deregulasi,” jelas Shinta.

Data PHK dan Penurunan Indikator Industri

Urgensi langkah preventif ini didasari oleh info BPJS Ketenagakerjaan nan mencatat sekitar 126.000 pekerja nonaktif akibat PHK pada periode Januari-Mei 2026. Dalam periode nan sama, klaim Jaminan Hari Tua (JHT) akibat PHK telah mencapai nomor 50.000 klaim.

Kondisi sektor manufaktur juga menunjukkan sinyal waspada. Apindo menyoroti penurunan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia ke level 46,9 pada Juni 2026, nan merupakan posisi terendah dalam setahun terakhir. Sejalan dengan itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) juga merosot dari 54,12 pada Januari 2026 menjadi 52,90 pada Juni 2026.

Shinta menilai, meski IKI tetap berada di atas periode ekspansi (level 50), tren penurunan ini mencerminkan terkikisnya optimisme pelaku industri akibat tekanan produksi dan pelemahan permintaan pasar global.

“Hampir semua negara sedang menghadapi tekanan akibat perlambatan ekonomi global hingga restrukturisasi rantai pasok dunia. nan membedakan adalah seberapa sigap kebijakan bisa menjadi alas bagi bumi upaya agar tekanan tersebut tidak berkembang menjadi gelombang PHK nan lebih besar,” pungkasnya. (Ant/H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia