Apakah Ekonomi RI Masih Tahan Banting?

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Bank DBS Indonesia menilai perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan nan solid di tengah tekanan geopolitik dunia dan perubahan nilai energi. Meski demikian, pemerintah dinilai perlu menyesuaikan sasaran pertumbuhan ekonomi seiring meningkatnya beragam akibat global.

Berdasarkan info Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) di kuartal pertama 2026. Angka ini membuktikan pertumbuhan tercepat sejak kuartal ketiga 2022.

DBS Group Research menilai esensial ekonomi RI tetap sangat solid di tengah volatilitas global. Namun, dinamika pada semester kedua 2026 tetap perlu diantisipasi secara hati-hati.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, menjelaskan Indonesia memulai tahun ini dengan fondasi ekonomi positif nan ditopang oleh konsumsi domestik, stimulus fiskal pemerintah, peningkatan shopping negara, dan momentum musiman hari besar keagamaan.

Radhika mengatakan, terdapat akibat eksternal nan membikin proyeksi pertumbuhan tahunan perlu disesuaikan. Penyesuaian ini perlu untuk mengantisipasi pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan nilai energi.

"Indonesia memasuki 2026 dengan percaya diri didukung esensial nan kuat. Namun, proyeksi pertumbuhan setahun penuh tetap perlu disesuaikan menjadi 5,1% (dari sebelumnya 5,3%) guna mengantisipasi akibat kenaikan nilai daya dunia dan tekanan pada nilai tukar Rupiah," ujar Radhika dalam keterangan tertulisnya, dikutip Kamis (14/5/2026).

Radhika menilai pertumbuhan ekonomi RI di kuartal I-2026 kemungkinan menjadi nan tertinggi sepanjang tahun ini. Pasalnya ke depan aktivitas ekonomi diperkirakan menghadapi tekanan tinggi imbas nilai daya global, volatilitas pasar keuangan, dan kebutuhan menjaga disiplin fiskal nasional.

DBS menilai, stabilitas makroekonomi menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan ekonomi di tengah dinamika saat ini. Menurutnya diperlukan pengendalian inflasi, disiplin fiskal, dan komunikasi kebijakan nan konsisten dalam menjaga stabilitas pasar.

Dari sisi pengambil kebijakan, pemerintah diperkirakan tetap berupaya menjaga defisit fiskal di bawah 3% terhadap PDB melalui pengendalian belanja, efisiensi program prioritas, dan optimasi penerimaan negara.

Selain itu, pemerintah perlu menjaga konsistensi penerapan kebijakan, termasuk penyelenggaraan Undang-Undang Cipta Kerja dan pengharmonisan izin pusat-daerah. Langkah ini krusial untuk menciptakan kepastian upaya dan meningkatkan kepercayaan investor.

Untuk menjaga stabilitas makroekonomi, pemerintah dinilai perlu memperkuat pengendalian inflasi dan disiplin fiskal, menjaga daya beli domestik, memastikan stimulus fiskal tetap tepat sasaran dan berkelanjutan.

Sementara dari sisi pelaku usaha, disarankan mulai mengantisipasi potensi perlambatan ekonomi dunia pada semester kedua 2026. Dalam perihal ini, kepastian dan konsistensi izin menjadi aspek utama dalam meningkatkan daya tarik investasi.

EV Jadi Motor Pertumbuhan RI

Head of Research DBS Indonesia, William Simadiputra, menilai ekosistem kendaraan listrik (EV), hilirisasi nikel, daya terbarukan, dan pembangunan infrastruktur, menjadi daya tarik utama investasi Indonesia.

Ia menilai, konsistensi arah kebijakan bakal menjadi aspek krusial dalam menjaga minat penanammodal asing. Saat ini, angsuran investasi tetap tumbuh positif, terutama di sektor konstruksi, pertambangan, dan agrikultur.

"Sektor EV ecosystem, pengolahan nikel, daya terbarukan, dan prasarana tetap menjadi pilar kekuatan pertumbuhan. Konsistensi kebijakan hilirisasi bakal menjadi magnet utama bagi penanammodal asing di tengah ketidakpastian nan terjadi," ujar William.

Meski demikian, DBS Research menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi salah satu aspek nan paling mempengaruhi prospek ekonomi dunia dan Indonesia. Risiko gangguan pengedaran dapat memicu lonjakan nilai minyak dan meningkatkan tekanan inflasi domestik.

Dalam skenario dasar, nilai minyak diperkirakan berada di kisaran US$ 80-85 per barel. Namun dalam skenario ekstrem, gangguan pengedaran dunia berpotensi mendorong nilai minyak melonjak hingga US$ 100-150 per barel.

Di sisi lain, pelemahan Rupiah, kenaikan nilai produsen (PPI), dan akibat cuaca akibat El Nino juga menjadi aspek nan dapat meningkatkan tekanan nilai dalam beberapa kuartal mendatang.

Bank Indonesia disebut bakal semakin konsentrasi menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas pasar di tengah meningkatnya tekanan eksternal. Meski suku kembang referensi tetap dipertahankan, arah kebijakan moneter dinilai condong lebih hawkish.

(kil/kil)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance