Warga bergantian menjalani pemeriksaan paru-paru menggunakan jasa Mobile X-Ray dalam aktivitas Skrining Sistematis Kesehatan Paru dan Cek Kesehatan Gratis di Gedung Serbaguna RW 01, Kelurahan Bandulan, Kota Malang, Jawa Timur, Senin (10/8/2026).(ANTARA/ARI BOWO SUCIPTO)
KESEHATAN adalah kekayaan nan tak ternilai. Pengalaman Sukiyah, seorang ibu rumah tangga asal Kampung Muara, Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada 2025 lampau dan didiagnosis tuberkulosis (TB). Setelah didiagnosis, dia menjalani pengobatan selama enam bulan. Berhadapan dengan penyakit menular tersebut membuatnya sempat merasa tidak percaya diri dan membatasi jarak demi menghindari penularan ke orang lain.
Trauma masa lampau membikin Sikayah sangat protektif, terutama jika anaknya mulai menunjukkan indikasi batuk. Ia segera membawa anaknya ke puskesmas jika batuk tak kunjung reda dalam dua pekan. Pengalaman tidak mengenakkan tersebut menjadikannya sosok garda terdepan dalam menjaga kesehatan keluarga. Berangkat dari rasa sayang kepada keluarga, dia mengingatkan suami dan kedua anaknya untuk tidak melewatkan kesempatan untuk ikut CKG di puskesmas di dekat rumahnya.
"Saya mah maunya anak saya, family saya, jangan sampai ada nan kena TB, cukup saya aja (yang merasakan sakit)," ungkap Sukiyah penuh minta saat ditemui di Jakarta, Kamis (13/8).
Beruntung, masa-masa pengobatan TB dilewati Sukiyah dalam lingkungan nan sangat suportif. Ia dengan bangga menceritakan sungguh luar biasanya solidaritas penduduk Kampung Muara. Alih-alih mendapatkan stigma jelek alias dikucilkan, dia justru merasa dirangkul erat oleh lingkungan sekitarnya.
"Saya bangga jadi penduduk di Kampung Muara ini. Dari kelurahan, RW, RT, sampai kader-kader dasawismanya, kita nan punya penyakit ini bukannya dijauhin, malah dirangkul dan diperhatiin," ceritanya dengan mata berbinar.
Dukungan moral dari para tetangga nan selalu menanyakan berita dan mengingatkan agenda periksa membuatnya tidak merasa sendirian. Menurut Sukiyah, sebagian masyarakat tetap banyak nan enggan mengikuti CKG lantaran takut 'ketahuan' menderita penyakit parah.
Sukiyah mempunyai pandangan bahwa pemeriksaan kesehatan merupakan awal perjalanan mengenali tubuhnya sendiri, menjalani pengobatan dengan lebih disiplin, dan menjaga kesehatannya agar tetap dapat menikmati aktivitas berbareng keluarga. "Kalau orang nan ada cek begitu, dia ngerasa takut, itu orang nan nggak mau tahu, engga mau sembuh, nggak ada semangat sehat," tegasnya.
Bagi Sukiyah, penemuan awal adalah kunci. "Kalau saya pribadi, ada berobat cuma-cuma buru-buru saya mah. Pengen tahu nih, kita sehat enggak. Biar kita tahu, biar kita sigap mencegah dan sigap sembuh. Apalagi udah usia, penyakit rentan masuk," lanjutnya memotivasi.
Hadirnya program CKG di puskesmas dirasa sangat membantu lantaran akses kesehatan menjadi lebih dekat terutama bagi penduduk nan terbatas dalam soal biaya transportasi maupun waktu. "Ada CKG begini berterima kasih saya mah. Jadi enggak usah jauh-jauh kita," pungkas Sukiyah dengan senyum semangat nan menular.
Kisah Sukiyah menjadi sebuah angan besar bahwa kesadaran masyarakat bakal kesehatan bakal terus meningkat. Harapan itu pula nan mau terus dibangun melalui penyelenggaraan CKG. Hingga 9 Agustus 2026, lebih dari 78 juta masyarakat Indonesia telah mengikuti program tersebut. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·