Anjuran IEA Kurangi Minyak dan LPG, DEN: Sesuai Skenario Transisi Energi Indonesia

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

 Sesuai Skenario Transisi Energi Indonesia

Anjuran IEA Kurangi Minyak dan LPG, DEN: Sesuai Skenario Transisi Energi Indonesia (Foto: Freepik)

JAKARTA - Dewan Energi Nasional (DEN) menilai rekomendasi Badan Energi Internasional alias IEA untuk mengurangi penggunaan minyak mentah dan LPG sesuai dengan skenario transisi energi Indonesia. Hal ini sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional.

"(Anjuran) dari Badan Energi Internasional itu sudah ada, apalagi dalam PP. Justru sekarang implementasinya,” kata personil DEN Satya Widya Yudha di Jakarta, Kamis (26/3/2026).

Menurut Satya, ada alias tidak ada perang pun, Indonesia memang sudah merancang skenario transisi daya tersebut. Hanya saja, sesuai kondisi saat ini, bisa menjadi momentum untuk mempercepat aksi. 

”Hanya sekarang, merespons ketegangan geopolitik ini, sehingga aksi-aksi ini bisa dipercepat,” ucap Satya. 

Satya menambahkan, rekomendasi IEA memang sesuai dengan skenario transisi daya nasional. Termasuk rekomendasi untuk menurunkan pemintaan dan penggunaan langkah fiskal. 

Terkait upaya menurunkan permintaan, Satya mencontohkan, mengenai pengalihan bahan bakar minyak (BBM) ke listrik. Menurutnya, kebijakan tersebut sudah termaktub dalam skenario transisi energi. Terutama untuk mobil, transportasi dan juga untuk kompor listrik untuk mengurangi LPG.

”Karena LPG dan BBM sama-sama komoditas impor, kebijakan nan baru dilaksanakan pemerintah adalah memaksimalkan transportasi publik,” ujar Satya. 

Begitu juga nan lain, seperti konversi sepeda motor, baik menuju bahan bakar gas, khususnya CNG alias pun listrik. ”Walaupun itu secara bertahap. Karena kita juga mengedepankan agar performa kendaraan tetap terjamin,” kata dia.

Termasuk kebijakan Presiden mengenai WFH, menurut Satya juga secara diharapkan bisa mengurangi mobilitas. ”Jadi intinya, di dalam kebijakan daya nasional, tidak hanya suplai nan diatur, tetapi demand juga.  Karena kita ingin, pada 2045, kita keluar dari middle income trap berfaedah pertumbuhan ekonominya juga kita harapkan tinggi,” jelasnya.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com