Anggaran AS Terkuras Habis, Biaya Perang Iran Tembus Rp 431 T

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Anggaran militer Amerika Serikat (AS) terkuras lenyap akibat bentrok bersenjata di Timur Tengah. Ini terungkap setelah Pentagon mempublikasikan bahwa biaya perang melawan Iran sejauh ini telah mencapai nomor dahsyat ialah US$ 25 miliar (Rp 431 triliun).

Mengutip Reuters, nomor tersebut merupakan perkiraan resmi pertama nan dikeluarkan oleh Departemen Pertahanan AS mengenai biaya bentrok tersebut. Anggaran sebesar itu setara dengan seluruh anggaran tahunan NASA, dan muncul di tengah tekanan politik menjelang pemilihan paruh waktu di mana Partai Republik ketua Presiden Donald Trump sedang berjuang mempertahankan kebanyakan bangku di DPR.

Jules Hurst, nan menjalankan tugas sebagai pengawas finansial (comptroller), mengungkapkan kepada para personil komite di House Armed Services Committee pada Rabu, bahwa sebagian besar biaya tersebut lenyap digunakan untuk amunisi. Namun, Hurst tidak merinci apakah perkiraan itu sudah mencakup biaya pembangunan kembali prasarana pangkalan di Timur Tengah nan rusak.

"Saya senang Anda menjawab pertanyaan itu. Karena kami sudah menanyakannya sejak lama, dan tidak ada nan memberi kami nomor tersebut," ujar Adam Smith, politisi senior Demokrat di komite tersebut menanggapi pernyataan Hurst, dikutip Kamis (30/4/2026).

Meskipun nomor US$ 25 miliar telah dirilis, tetap ada ketidakjelasan mengenai gimana Pentagon menghitung nilai tersebut. Pasalnya, sumber internal sempat menyebut kepada Reuters bulan lampau bahwa manajemen Donald Trump memperkirakan enam hari pertama perang saja sudah menghabiskan setidaknya US$ 11,3 miliar (Rp 194.958.900.000.000).

Menteri Pertahanan Pete Hegseth memihak pengeluaran besar tersebut di hadapan para kreator kebijakan dengan argumen demi keamanan nasional. Hegseth menegaskan bahwa biaya itu sepadan dengan tujuan utama Amerika Serikat untuk memastikan Iran tidak mempunyai senjata nuklir.

"Berapa nan bersedia Anda bayar untuk memastikan Iran tidak mendapatkan peledak nuklir? Berapa nan bakal Anda bayar?" tanya Hegseth kepada para personil dewan.

Dalam pernyataan nan berapi-api, Hegseth juga menyerang kembali para politisi Demokrat nan mengkritik bentrok tersebut sebagai sebuah kekacauan nan menjerat. Ia menganggap kritik tersebut justru menjadi senjata propaganda bagi musuh-musuh Amerika Serikat di luar negeri.

"Anda menyebutnya sebagai rawa (quagmire), memberikan propaganda kepada musuh-musuh kita? Malu atas pernyataan itu. Demokrat di Kongres ceroboh, lemah, dan berbudi pekerti kalah," tegas Hegseth saat menanggapi kritik dari John Garamendi.

Konflik ini diketahui bermulai sejak AS mulai melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, nan sekarang berada dalam posisi gencatan senjata nan rapuh. Perang ini tidak hanya menyantap biaya materi, tetapi juga nyawa, di mana tercatat 13 tentara AS tewas dan ratusan lainnya luka-luka di tengah pengerahan puluhan ribu pasukan tambahan ke Timur Tengah.

Kenaikan biaya perang ini berakibat langsung pada ekonomi domestik AS, terutama pada lonjakan nilai minyak dan gas alam nan memicu inflasi tinggi pada nilai bahan bakar serta produk pertanian. Berdasarkan info American Automobile Association, rata-rata nilai bensin di AS pada Selasa mencapai level tertinggi dalam nyaris empat tahun terakhir.

Kondisi ekonomi nan susah ini berujung pada merosotnya ketenaran Trump di mata publik. Berdasarkan jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos, hanya 34% penduduk Amerika nan menyetujui bentrok dengan Iran, nomor ini terus menurun jika dibandingkan dengan posisi pertengahan Maret nan tetap berada di level 38%.

(tps/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News