Jakarta, CNBC Indonesia - Industri perhotelan belum menikmati sepenuhnya hasil dari libur panjang. Pengusaha menjelaskan industri hotel umumnya baru dapat menikmati peningkatan pendapatan secara signifikan ketika tingkat okupansi telah menembus level nan lebih tinggi.
Jika okupansi tetap berada di kisaran 50%, opsi bagi hotel untuk meningkatkan tarif bilik tetap terbatas.
"Kalau okupansi average occupancy-nya tetap di range 50-an persen, peningkatannya tidak terasa di hotel. Biasanya jika okupansi sudah masuk rata-rata di atas 70%, baru dia bakal berpengaruh ke sana," kata Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran kepada CNBC Indonesia, Rabu (3/6/2026).
PHRI memandang salah satu aspek nan menghalang pengedaran faedah visitor ke industri hotel adalah maraknya akomodasi nan beraksi di luar sistem perizinan resmi. Kondisi ini membikin sebagian visitor memilih menginap di penginapan nonformal nan tidak tercatat sebagai hotel.
"Yang jadi tantangan itu banyak akomodasi liar. Mereka memilih tidak menginap di hotel, mungkin di kos-kosan alias akomodasi lainnya nan marak saat ini," ujarnya.
Akibatnya, peningkatan jumlah visitor tidak otomatis diikuti kenaikan okupansi hotel maupun penerimaan wilayah dari sektor pariwisata. Padahal, hotel menjadi salah satu upaya nan memberikan kontribusi langsung terhadap pendapatan original wilayah melalui pajak dan penyerapan tenaga kerja.
"Harusnya peningkatan kunjungan itu diikuti dengan peningkatan okupansi. Karena hotel itu pasti berkontribusi terhadap PAD," kata Maulana.
Kondisi tersebut dinilai menjadi anomali di tengah info kunjungan visitor asing nan terus menunjukkan tren pertumbuhan. Menurut PHRI, kenaikan shopping visitor tersebut belum tercermin secara merata pada upaya perhotelan. Hanya hotel-hotel tertentu nan mempunyai segmen pasar unik nan dapat merasakan akibat lebih besar dari peningkatan kunjungan wisatawan.
"Mungkin ada hotel-hotel tertentu nan mendapatkan faedah dari situ lantaran mempunyai daya tarik tersendiri. Tapi jika kita bicara satu provinsi secara keseluruhan, tentu tidak ketemu dampaknya," kata Maulana.
Karena itu, PHRI menilai tantangan utama pariwisata saat ini bukan hanya meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi memastikan setiap pertumbuhan kunjungan betul-betul memberikan akibat ekonomi nan dirasakan oleh pelaku upaya resmi dan pemerintah daerah. Kondisi di lapangan menunjukkan dampaknya terhadap upaya hotel tetap terbatas.
"Ya kondisi lapangannya tidak terlalu signifikan dampaknya kepada hotel. Wisman-nya meningkat ya betul, tapi tantangan nan kudu dihadapi adalah gimana mengantisipasi agar wisman itu juga berakibat terhadap PAD," kata Maulana.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·