Masyarakat membeli bahan bakar minyak (BBM) di salah satu SPBU di Tangerang, Banten, Rabu (10/6/2026).(MI/AGUNG WIBOWO)
POLITIKUS Partai Gerindra, Andre Rosiade, memberikan penjelasan mengenai dinamika nilai bahan bakar minyak (BBM) di tanah air. Ia menegaskan bahwa kenaikan nilai Pertamax merupakan langkah penyesuaian nan hanya menyasar kategori BBM nonsubsidi, sementara nilai BBM subsidi nan menjadi tumpuan masyarakat luas tetap dipertahankan.
Menurut Andre, publik perlu memahami perbedaan mendasar antara kedua kategori tersebut agar tidak terjadi kesalahpahaman. Ia menilai pemerintah mempunyai komitmen kuat untuk melindungi daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi dunia nan terus bergejolak.
Komitmen Melindungi Rakyat Kecil
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI tersebut menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil dengan pertimbangan matang. Pemerintah tetap memberikan perlindungan bagi pengguna BBM subsidi, seperti Pertalite, nan secara statistik memang mendominasi konsumsi nasional.
Berdasarkan info nan dihimpun, berikut adalah proporsi konsumsi bensin kendaraan di Indonesia saat ini:
| BBM Subsidi | Pertalite, Solar Subsidi | 77% – 80% |
| BBM Nonsubsidi | Pertamax, Pertamax Turbo, Dex | 20% – 23% |
“Pemerintah tidak meningkatkan nilai BBM bersubsidi. nan mengalami penyesuaian adalah BBM nonsubsidi. Ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk tetap berbareng rakyat dan menjaga kebutuhan masyarakat luas,” ujar Andre dalam sebuah obrolan publik baru-baru ini.
Pengaruh Geopolitik dan Harga Minyak Dunia
Lebih lanjut, Andre memaparkan bahwa nilai BBM nonsubsidi sangat berjuntai pada sistem pasar, terutama pergerakan nilai minyak mentah bumi dan situasi geopolitik internasional.
Menurutnya, pemerintah tidak mungkin terus-menerus menahan nilai BBM nonsubsidi lantaran perihal tersebut berisiko membebani finansial negara secara berlebihan.
Meski demikian, dia menjamin bahwa penyesuaian harga Pertamax dilakukan secara terukur. Pemerintah berupaya mencari titik keseimbangan antara keberlanjutan fiskal (kesehatan anggaran negara) dan keahlian ekonomi konsumen pengguna BBM nonsubsidi.
Penyesuaian nilai hanya bertindak pada jenis BBM nonsubsidi nan mengikuti tren pasar global, sementara BBM subsidi tetap dipatok pada nilai nan sama untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Andre membujuk masyarakat untuk memandang persoalan ini secara utuh. Ia menekankan bahwa langkah pemerintah saat ini adalah corak keberpihakan nyata kepada masyarakat nan paling memerlukan perlindungan ekonomi.
“Yang terpenting adalah pemerintah tetap menjaga BBM subsidi agar tidak naik dan memastikan masyarakat tetap mendapatkan perlindungan. Kenaikan pada BBM nonsubsidi dilakukan secara terukur dan dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional,” pungkasnya. (Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·