Opini
, Jurnalis-Minggu, 08 Maret 2026 |09:49 WIB

Analisis (Telematika) Wafatnya Pemimpin Iran dan Prediksi (Perang) (tangkapan layar)
Penulis Dr KRMT Roy Suryo, MKes
Pemerhati Telematika, Multimedia, AI dan OCB Independen
SAAT berkunjung langsung ke Rumah Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi nan berlokasi di Jalan Madiun No 1 RT 2 /RW 4, Menteng, Jakarta Pusat pada hari Kamis (5/3/2026), saya banyak mendapat permintaan untuk membikin Analisis Telematika (Telekomunikasi, Multimedia dan Informatika) tentang meninggalnya Pemimpin Spiritual Iran Ali Hosseini Khamenei (lahir 19/04/1939) akibat digempur Amerika pada 28 Februari 2026 minggu lalu. Selain berjumpa langsung dan menyampaikan simpati berupa ucapan duka cita secara langsung ke Pak Dubes, saya juga bermohon di tempat nan sudah disediakan (samping buka dan foto almarhum), saya menuliskan pesan secara unik pada selembar kertas ucapan nan juga sudah disiapkan untuk dimasukkan dalam kotak tertentu sekaligus menandatangani Papan "Wall of Signature" berbareng para visitor dan tokoh-tokoh lainnya.
Saat diminta menuliskan kajian minggu lampau itu sebenarnya saya sempat menyatakan bahwa perihal secara teknis tersebut pasti bakal banyak nan menulis, apalagi konsentrasi tetap kepada piagam JkW nan secara telematika sudah dianalisis ilmiah dengan hasil 99,9% Palsu. Namun setelah diamati seminggu terakhir dalam pemberitaan sekaligus komentar para master nan disajikan beragam media mainstream dan alternatif, sayangnya tidak banyak (bahkan bisa disebut "tidak ada"?) kajian telematika mengenai perihal tersebut. Oleh karenanya tanpa bermaksud beranjak dari Kasus Ijazah Palsu nan sudah makin mengerucut apalagi pasca terbitnya kitab JWP / Jokowi's White Paper nan di dalamnya secara ilmiah termuat fakta-fakta teknis sampai konklusi 99,9% tiruan tersebut, maka kajian ini dibuat dengan mengedepankan teori-teori ilmiah dan prakteknya nan sudah terjadi sampai sekarang.
Pertama, peristiwa ini terjadi dengan latar belakang bentrok Iran vs Israel–AS sejak 2024–2025 nan meningkat ketegangannya lantaran beberapa aspek strategis, antara lain program nuklir Iran, di mana terjadi pengayaan uranium di Iran hingga >60% (mendekati level senjata nuklir) dan ini membikin Israel menilai nyaris mencapai "nuclear breakout capability". Kedua, ada aspek "Proksi regional", dimana Iran mendukung: Hizbollah di Lebanon, Hamas di Gaza, Milisi Syiah di Irak, Houthi di Yaman nan kesemuanya membentuk “Axis of Resistance” melawan Israel nan 180° bertolak belakang berbeda.
Ketiga, sebenarnya sudah terjadi perang selama bertahun-tahun dengan Israel nan melakukan sabotase akomodasi nuklir Iran dan sebaliknya Iran melakukan serangan drone dan cyber attack. Konflik ini akhirnya meningkat menjadi serangan langsung antar negara pada 2025–2026. Puncaknya adalah dilakukannya Operasi Pembunuhan Ali Khamenei pada 28/02/2026 kemarin. Menurut beragam laporan intelijen dan media internasional, operasi ini merupakan jenis "Decapitation strike" (serangan untuk memenggal kepemimpinan alias pamungkas). Secara detail, terjadi pada pukul 08.10 waktu Teheran dengan letak di kompleks kediaman almarhum, termasuk sejumlah pejabat militer Iran dengan total korban sekitar 6 pejabat tinggi Iran.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·