Dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI), Asra Virgianita, menilai gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran selama dua minggu belum menjamin terciptanya perdamaian jangka panjang. Asra menilai kesepakatan tersebut lebih berkarakter taktis daripada strategis.
"Kalau kesepakatan ini dari sisi waktu dua minggu rasanya mini kemungkinan menjadi permanen," kata Asra kepada wartawan, Kamis (9/4/2026).
"Nampaknya ini langkah kedua belah pihak untuk 'bernapas' sejenak, sembari berbilang alias mengkalkulasi langkah ke depan, termasuk membaca reaksi lawan, apakah betul-betul bakal melakukan deeskalasi, ini bisa dikatakan bagian dari crisis management," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kesepakatan tersebut condong berorientasi jangka pendek. Dia mengatakan kesepakatan itu bukan untuk menyelesaikan bentrok secara menyeluruh.
"Jadi dapat jelas dibaca ini tujuannya jangka pendek alih-alih untuk kebutuhan jangka panjang (berakhirnya konfik)," ujarnya.
Menurutnya, kesempatan gencatan senjata ini berkembang menjadi kesepakatan permanen tetap sangat kecil. Dia mengatakan untuk mencapai perihal tersebut, dibutuhkan upaya nan lebih intensif dalam membangun kepercayaan antar kedua negara.
"Peluangnya mini untuk menjadi permanen, dibutuhkan upaya nan intensif dan jangka panjang untuk membangun trust alias confindence building measures (CBMs) satu dengan lainnya," jelasnya.
"Dua minggu terlalu pendek untuk menjamin situasi aman. Masing-masing pihak tetap on high alert dalam merespons situasi keamanan," sambung dia.
Hal nan sama disampaikan, Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia (UI), Fredy Buhama Lumban Tobing. Dia menilai kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu memberi ruang bagi kedua negara untuk melakukan kalkulasi strategis ke depan.
"Menurut saya, kesepakatan gencatan senjata dua minggu tersebut memberi kesempatan kepada kedua belah pihak AS-Iran untuk membikin kalkulasi strategis ke depannya, apakah bentrok bakal bersambung alias bakal diakhiri," ungkapnya.
Menurutnya, pembukaan Selat Hormuz sebagai bagian dari strategi masing-masing pihak untuk membangun gambaran di mata dunia. Dia menilai berasas posisi geopolitik Iran nan strategis bakal susah berkembang menjadi kesepakatan permanen.
"Sejauh ini, menimbang posisi geopolitik Iran nan demikian strategis dan isi 10 persyaratan nan diajukan oleh Iran, nampaknya tetap susah untuk memandang prospek bahwa gencatan senjata dua minggu ini bakal berkembang ke arah gencatan nan permanen," paparnya.
Menurutnya, kunci agar kesepakatan tersebut dapat bersambung menjadi perdamaian jangka panjang sangat berjuntai pada sikap Amerika Serikat, khususnya Presiden Donald Trump.
"Kuncinya pada Trump. Dia kudu membuang jauh-jauh ambisi agresinya terhadap Iran," tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan bahwa Iran bakal menyetujui gencatan senjata "jika serangan terhadap Iran dihentikan".
Dia menambahkan, "selama periode dua minggu, jalur pelayaran kondusif melalui Selat Hormuz bakal dimungkinkan".
Menurut Araghchi, perihal tersebut bakal dilakukan "melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran serta dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis nan ada".
Pernyataan Araghchi mengemuka sesaat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran bakal menempuh gencatan senjata selama dua minggu dengan syarat Iran membuka lampau lintas maritim di Selat Hormuz.
"Saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu," ujar Trump di Truth Social.
(amw/idn)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·