Pelaku pasar menantikan pengumuman hasil pertimbangan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap status pasar modal Indonesia nan dijadwalkan pada 12 Mei 2026.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengatakan pengumuman MSCI kali ini diperkirakan tak membawa kejutan besar bagi pasar saham Indonesia. Sebab, MSCI sebelumnya sudah membekukan alias freeze proses rebalancing saham Indonesia sejak awal tahun.
“Saya rasa besok gak ada kejutan besar dari MSCI. Sejak April 2026 (bahkan Januari), MSCI sudah membekukan (freeze) rebalancing saham Indonesia,” ujar Gunarto kepada kumparan, Senin (11/5).
Gunarto memperkirakan dalam periode pertimbangan kali ini tidak ada penambahan saham baru ke indeks MSCI, tidak ada migrasi saham dari kategori small cap ke standard, serta belum ada kenaikan baik Foreign Inclusion Factor (FIF) maupun Number of Shares (NOS).
Selain itu, MSCI juga tetap mengevaluasi sejumlah rumor mengenai pasar modal Indonesia, seperti konsentrasi kepemilikan saham alias high shareholding concentration (HSC) dan patokan free float 15 persen.
“Jadi, besok kemungkinan besar konfirmasi status quo (freeze tetap berlaku). Update final pertimbangan reformasi transparansi Indonesia (free float 15 persen, HSC) baru di Juni 2026,” kata Gunarto
“Walau demikian, berkaca pada penanammodal asing yg bukukan posisi net beli sebanyak USD 660 juta pada Jumat lalu, maka saya memandang IHSG tetap memberikan daya tarik buat penanammodal global,” tambahnya.
Gunarto menuturkan penanammodal asing saat ini tetap memburu saham-saham dengan esensial kuat, emiten pembagi dividen, hingga sektor-sektor nan sedang berada dalam tren positif seperti energi, kesehatan, pertanian, dan transportasi.
“IHSG sebenarnya tetap bisa naik ke atas 7.128 pada akhir pekan ini,” ututur Gunarto.
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan secara teknikal IHSG sejauh ini belum mengalami breakdown nan mengindikasikan pelemahan lebih dalam.
“Yang jelas, waktu perdagangan tadi, IHSG tetap belum sukses mengalami breakdown loh ya. Walaupun sebenarnya sudah menutup lower loh, tapi belum sukses mengalami breakdown secara valid,” ujar Nafan.
Nafan menyebut pasar tetap menunggu hasil pertimbangan MSCI mengenai kemungkinan perubahan komposisi indeks dan status pasar Indonesia. Namun, sejauh ini MSCI belum menurunkan pengelompokkan Indonesia menjadi frontier market.
“Karena MSCI itu tetap mengapresiasi langkah nan dilakukan oleh Bursa Efek,” ungkap Nafan.
Menurutnya, sejumlah saham besar seperti perbankan dan Telkom diperkirakan tetap bakal tetap memperkuat di indeks MSCI. Namun, beberapa emiten lain tetap kudu memenuhi syarat mengenai free float, Foreign Inclusion Factor (FEF), dan konsentrasi kepemilikan saham.
“Tentunya kembali lagi ini secara teknikal, tadi kan kandas mengalami breakdown. Malah terjadi buy-on-dip strategi,” tutur Nafan.
Pada penutupan perdagangan Senin (11/5), IHSG terkoreksi 63,78 poin alias 0,92 persen ke level 6.905,62. Sejalan, indeks LQ45 juga ambruk 1,27 persen dan ditutup pada posisi 668,634.
Total nilai transaksi hari ini mencapai Rp 20,32 triliun dengan volume 41,07 miliar lembar saham nan diperdagangkan dalam 2,81 juta kali frekuensi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·