Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat terdapat 23 kasus Hantavirus di Indonesia sepanjang 2024 hingga 2026 dengan total tiga kematian.
Seluruh kasus nan ditemukan di Indonesia merupakan jenis Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), berbeda dengan jenis Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) nan memicu klaster kematian di kapal pesiar MV Hondius.
“Bagaimana dengan situasi Indonesia? Nah, kita bisa lihat di sini tadi saya sudah sampaikan bahwa virus Hanta nan ada di Indonesia itu adalah tipenya HFRS, sekali lagi berbeda dengan jenis nan terjadi di kapal pesiar Hondius, ya,” kata Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, dalam konvensi pers daring, Senin (11/5).
“Dari tahun 2024 sampai 2026 ada 23 kasus, ya, tersebar di tahun 2024, 1 (kasus), kemudian 2025, 17 (kasus), kemudian 2026, 5 (kasus) ya. Tiga nan meninggal. Dan sekali lagi saya sampaikan belum dilaporkan temuan HPS di Indonesia,” ungkap Andi.
Andi menjelaskan Hantavirus jenis HFRS sebenarnya sudah ditemukan di Indonesia sejak 1991. Seluruh kasus konfirmasi nan ditemukan di Indonesia berasal dari strain Seoul virus.
“Kasus Hanta HFRS pada manusia di Indonesia telah ditemukan sejak tahun ’91 di beberapa wilayah ya. Kemudian kasus konfirmasi ya HFRS nan terjadi di Indonesia itu seluruhnya adalah strain Seoul virus,” jelasnya.
Ia mengatakan virus tersebut ditemukan pada tikus dan celurut ( di beragam wilayah Indonesia.
“Kemudian Hantavirus pada tikus celurut ya, pada wilayah penelitian 29 provinsi ditemukan pada tikus celurut di melalui studi Rikus Vektora. Dan aspek akibat utama adalah kontak erat dengan tikus celurut terinfeksi maupun paparan ekskresi dan sekresinya,” jelasnya.
Ia menjelaskan penyebaran HFRS dan HPS secara dunia terjadi di sejumlah wilayah Eropa, Amerika, dan Asia.
“Memang Euro (Eropa) itu komposisinya alias jumlahnya jika kita lihat dari masing-masing tiap tahun dari sketsa bar ini, Euro itu memang paling banyak,” ungkap Andi.
“Sebaran jenis HFRS dan HPS tersebar di beberapa wilayah Eropa seperti Finlandia, Jerman, dan Swedia. Amerika seperti Chile, Argentina, dan Panama serta Asia seperti Korea Selatan, Cina, dan Taiwan,” sambungnya.
Kemenkes Sebut Tren Kasus Meningkat
Andi mengakui terjadi peningkatan kasus dibanding tahun 2024.
“Kita kudu menjaga ya kasus di tahun 2025 dan 2026 secara tren memang meningkat, ya, nan dibanding nan tadi tuh, ya 2024 hanya satu, ya, kasusnya,” katanya.
Meski demikian, dia menyebut tingkat kematian alias case fatality rate (CFR) di Indonesia tetap berada dalam rentang dunia normal.
“CFR-nya, case fatality rate-nya itu 13% ya, tadi saya sudah sampaikan bahwa sebenarnya rata-rata CFR-nya ini adalah sebesar 5 sampai 15%. Berarti secara rata-rata, ya, dalam konteks dunia gitu, ya, itu tetap dalam range nan normal,” imbuh Andi.
Kemenkes Perkuat Surveilans dan Pengawasan
Kemenkes menyebut penguatan surveilans terus dilakukan, termasuk skrining pelaku perjalanan internasional di pintu masuk negara.
“Nah gimana strategi dan upaya kewaspadaan di Indonesia? Hal nan paling krusial adalah dilakukan surveilans ya, kemudian penguatan sumber daya dan juga kapabilitas dari laboratorium,” jelas Andi.
Menurut Andi, pemeriksaan dilakukan melalui thermal scanner, pengamatan visual, hingga aplikasi All Indonesia.
“Surveilans kita lakukan skrining indikasi pelaku perjalanan di pintu masuk negara melalui thermal scanner, pengamatan visual serta aplikasi All Indonesia,” ucapnya.
Ia mengatakan pengawasan dilakukan oleh 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) di seluruh Indonesia.
“Dan ini dikawal oleh 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan alias BKK nan ada di seluruh Indonesia. Jadi pelaku perjalanan baik melalui airport ya maupun juga dari pelabuhan laut itu dilakukan perihal seperti demikian,” ujar Andi.
Selain itu, Kemenkes juga melakukan surveilans penyakit jangkitan emerging di rumah sakit.
“Dan kemudian surveilans sentinel penyakit jangkitan emerging di 21 rumah sakit terus kita lakukan, lantaran ini krusial juga ya untuk mendapatkan info informasi mengenai dengan pasien-pasien nan bergejala serupa dan sampai kita pastikan bahwa itu bukan penyakit Hantavirus ya,” tutur dia.
Pemerintah Siapkan 198 Rumah Sakit dan 221 PCR
Andi menyebut pemerintah telah menyiapkan jejaring rumah sakit dan laboratorium untuk mengantisipasi kasus Hantavirus.
“Saat ini terdapat 198 rumah sakit jejaring pengampuan penyakit jangkitan emerging ya. Ini adalah termasuk di dalamnya adalah 21 rumah sakit sentinel penyakit jangkitan emerging di 20 provinsi,” kata Andi.
Ia menjelaskan rumah sakit tersebut disiapkan untuk pemantauan kasus hingga pencegahan kejadian luar biasa (KLB).
“Artinya bahwa rumah sakit ini disiapkan untuk menjadi rumah sakit nan ditunjuk untuk melakukan pemantauan, termasuk juga untuk pemantauan kasus dan juga untuk mencegah daripada KLB dan hal-hal mengenai dengan sentinel tersebut ya,” ungkapnya.
Kemenkes juga menyebut kapabilitas pemeriksaan PCR di Indonesia cukup besar.
“Dan kesiapan perangkat PCR kami di seluruh Indonesia, sudah ada 221 PCR jumlahnya cukup banyak sebenarnya,” katanya.
Perawatan Hantavirus Bisa Ditanggung BPJS
Andi mengatakan indikasi Hantavirus mirip dengan leptospirosis, seperti demam dan tubuh menguning akibat gangguan organ.
“Ya jadi penyakit ini kan sebenarnya ya untuk Hantavirus itu adalah dengan gejala-gejala nan sebenarnya kurang lebih rata-rata nan terjadi saat ini, nan ditanggung oleh BPJS ya kan, seperti demam kemudian ikterus kuning dan lain sebagainya serupa dengan kejadian untuk penyakit leptospirosis,” kata Andi.
Ia menjelaskan leptospirosis dan Hantavirus sama-sama berangkaian dengan tikus, meski penyebabnya berbeda.
“Kalau leptospirosis kan itu leptospira penyebabnya kuning juga melalui tikus juga vektornya tapi ini kan sebenarnya virus ya jika Hantavirus ya,” jelasnya.
Menurut Andi, pembiayaan pengobatan Hantavirus dapat menggunakan skema BPJS.
“Dan pembayaran dapat menggunakan skema penjaminan BPJS sesuai ketentuan nan bertindak ya. Pembiayaan berdikari pun bisa dilakukan andaikan tidak mempunyai BPJS,” pungkasnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·