Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk pada penutupan sesi I perdagangan Jumat (24/4), melanjutkan pelemahan sejak pembukaan pagi.
Berdasarkan info Stockbit, indeks komposit terperosok ke area merah di level 7.152,85, alias turun 225,75 poin (-3,06 persen).
Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai penurunan tetap dipicu oleh tensi geopolitik di Timur Tengah tetap tinggi, terutama mengenai kondisi di Selat Hormuz nan dinilai cukup kompleks akibat potensi blokade.
Situasi tersebut mendorong kenaikan nilai minyak hingga menembus level di atas USD 100 per barel.
“Sehingga para penanammodal dunia kemudian melakukan tindakan flight to safety ataupun juga risk averse untuk aset investasi nan ada di energy market nan berkategori net oil import country,” kata Myrdal saat dihubungi kumparan, Jumat (24/4).
Ia melanjutkan, kenaikan nilai minyak di atas USD 100 per barel juga dinilai meningkatkan tekanan terhadap negara net importir melalui imported inflation.
Jika tidak diantisipasi dengan kebijakan fiskal nan tepat, perihal ini berpotensi menekan kondisi makroekonomi.
“Ya walaupun dari Indonesia kita lihat sejauh ini tetap relatif solid untuk dampaknya,” lanjut Myrdal.
Selain aspek geopolitik, Myrdal juga menyebut pelaku pasar dunia tengah mencermati perkembangan mengenai keputusan MSCI terhadap status investasi Indonesia.
Meskipun Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melakukan beragam langkah perbaikan, termasuk mendorong peningkatan porsi saham beredar alias free float dalam indeks seperti IDX30 dan IDX80.
“Tapi memang penanammodal tetap wait and see terhadap kondisi tersebut sehingga mereka ambil kondusif dulu,” ucap Myrdal.
Menambahkan Myrdal, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pergerakan IHSG saat ini tetap berada dalam fase koreksi nan wajar.
Secara teknikal, indeks diperkirakan tetap berpotensi menguji area wave (ii) alias wave (a) sebagai bagian dari pola pergerakan jangka pendek.
“Berdasarkan indikator, RSI menunjukkan sinyal positif didukung kenaikan volume, namun Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif,” kata Nafan kepada kumparan.
Di tengah kondisi tersebut, Nafan menyatakan pasar tetap mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran nan memicu ketidakpastian terhadap prospek perdamaian ke depan. Situasi ini mendorong penanammodal untuk beranjak ke aset safe haven seperti dolar AS.
“Apalagi rupiah terpantau melemah sekitar 105 poin dan ditutup di kisaran Rp 17.280. Di sisi lain, nilai minyak Brent melonjak ke kisaran USD 106 per barel,” tutur Nafan.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·