Anak Terlalu Dimanja, Akhirnya Tidak Tau Sopan Santun

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi penegasan bahwa ketika seorang anak terlalu di manja, pada akhirnya si anak bakal tidak tahu sopan santun. Foto: Generated by AI

Sering kita lihat di sekitar: anak mini nan berteriak seenaknya, memotong pembicaraan orang tua, alias meminta sesuatu dengan nada memerintah. Ketika ditegur, orang tuanya malah memihak dengan argumen "masih kecil, kelak juga mengerti". Lama-kelamaan kebiasaan ini terbawa hingga mereka tumbuh besar. Bukan lantaran mereka tidak bisa membedakan mana nan baik dan buruk, tapi lantaran sejak mini tidak pernah diajarkan batasan—malah selalu dimanja dan dituruti segala keinginannya.

Memanjakan anak memang corak kasih sayang, tapi seringkali berubah menjadi kerusakan jika tidak dibarengi dengan aturan. Banyak orang tua berpikir bahwa memberikan semua nan diminta dan tidak pernah menegur adalah langkah membikin anak bahagia. Padahal justru sebaliknya. Ketika setiap kemauan selalu dikabulkan tanpa perlu berupaya alias menghargai orang lain, anak tumbuh dengan kepercayaan bahwa bumi kudu selalu berputar mengikuti keinginannya. Sopan santun dianggap sebagai perihal nan tidak penting, apalagi sebagai beban.

Kondisi ini makin terlihat jelas saat mereka berinteraksi dengan orang di luar lingkungan keluarga. Ada nan berbincang kasar kepada orang nan lebih tua, tidak mau mengucapkan terima kasih alias permisi, apalagi merasa berkuasa didahulukan dalam segala hal. Ketika dikoreksi, mereka justru merasa tersinggung alias marah lantaran selama ini tidak pernah diperlakukan demikian. Sikap ini bukan muncul tiba-tiba, melainkan hasil dari kebiasaan nan dibiasakan sejak kecil: apa nan saya mau kudu saya dapatkan, tidak peduli gimana emosi orang lain.

Ilustrasi sopan santun. Foto: Shutterstock

Sopan santun sebenarnya bukan soal formalitas semata, melainkan langkah kita menghargai sesama. Anak nan terlalu dimanja jarang memahami perihal ini. Mereka tidak diajarkan bahwa setiap orang mempunyai nilai diri dan emosi nan kudu dijaga. Misalnya, ketika meminta tolong, mereka tidak tahu kudu berbicara apa; ketika diberi bantuan, mereka merasa itu adalah haknya. Tanpa disadari, sikap seperti ini membikin mereka susah berbaur dan sering menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang-orang di sekitarnya.

Bukan berfaedah kita tidak boleh menyayangi anak. Kasih sayang itu penting, tapi kudu disertai dengan bimbingan. Menegur ketika mereka salah, mengajarkan langkah berbincang nan baik, dan membiasakan mereka menghormati orang lain bukan berfaedah menyakiti hati mereka. Justru itu bekal nan paling berbobot agar kelak mereka bisa diterima di mana pun berada. Anak nan diajarkan batas sejak mini justru bakal tumbuh menjadi pribadi nan percaya diri dan tahu langkah berinteraksi dengan baik.

Pada akhirnya, memanjakan secara berlebihan justru menjadi corak ketidaksiapan orang tua menghadapi masa depan anak. Sopan santun adalah bekal hidup nan tidak bisa dibeli dengan uang. Jika sejak mini tidak dibiasakan, mereka bakal susah diubah ketika sudah dewasa. Lebih baik sedikit tegas dan mengajarkan patokan sejak dini, daripada membiarkan mereka tumbuh menjadi orang nan tidak tahu langkah menghargai orang lain hanya lantaran kebiasaan dimanja nan tidak pernah dibenahi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan