Pernah memandang anak diam-diam ikut mendengarkan saat orang tua sedang berbincang dengan orang lain, Moms? Tak sedikit orang tua nan mungkin langsung menegur alias meminta anak pergi lantaran menganggap perilaku tersebut tidak sopan.
Namun sebenarnya, apakah anak nan suka menguping pembicaraan orang dewasa perlu dilarang? Menurut Psikolog Anak dan Keluarga, Roslina Verauli, M.Psi, Psikolog, orang tua sebaiknya memahami terlebih dulu argumen di kembali perilaku tersebut sebelum buru-buru melarang anak.
“Secara psikologis, kebiasaan anak menguping pembicaraan orang dewasa (terutama di usia 6–12 tahun) adalah kejadian perkembangan nan normal dan adaptif,” ujar Verauli kepada kumparanMOM, Selasa (15/9).
Kenapa Anak Suka Menguping?
Menurutnya, kegunaan perilaku menguping dapat berbeda pada setiap tahapan usia. Pada usia batita hingga anak sekolah, kebiasaan tersebut berangkaian dengan proses anak dalam menyerap informasi, memahami emosi, hingga mengenali patokan sosial di sekitarnya.
Menurut Psikolog Anak dan Keluarga, Roslina Verauli, M.Psi, Psikolog, perilaku menguping dapat menjadi bagian dari perkembangan anak.
Usia 1–3 tahun:
Menguping menjadi langkah anak menyerap info dari orang dewasa. Anak belajar kata-kata baru, fakta, norma sosial, hingga meniru tindakan orang dewasa.
Usia 3–5 tahun:
Anak mulai menggunakan “antena emosional” untuk membaca suasana. Mereka mengawasi ketika orang dewasa sedang berdiskusi, marah, alias resah untuk menyesuaikan responsnya.
Studi dalam jurnal Child Development juga menunjukkan, sejak berumur 18 bulan, anak sudah dapat melakukan “emotional eavesdropping”, ialah mengawasi reaksi emosional orang dewasa untuk menyesuaikan perilakunya.
“Mereka mengawasi reaksi emosional orang dewasa untuk memandu dan memodifikasi perilaku mereka sendiri agar terhindar dari bentrok alias kemarahan,” imbuhnya.
Tidak Perlu Dilarang alias Dihukum Keras
Meski begitu, bukan berfaedah orang tua kudu membiarkan anak menguping semua pembicaraan. Verauli mengatakan, anak tetap perlu diarahkan dan dikenalkan dengan konsep privasi serta batasan.
“Secara umum, anak nan suka menguping tidak perlu dilarang secara total alias dihukum secara keras. Anak pada dasarnya hanya butuh diarahkan dan dibatasi,” tuturnya.
Menurutnya, melarang anak secara garang justru dapat memicu rasa resah alias membikin mereka melakukan kebiasaan tersebut secara lebih sembunyi-sembunyi.
Oleh lantaran itu, orang tua dapat mengubah pendekatan dari sekadar melarang menjadi mengajarkan konsep privasi dan boundaries secara lembut. Rasa mau tahu anak juga tetap perlu divalidasi.
Misalnya dengan mengatakan, “Ibu tahu Anda penasaran, tapi ini pembicaraan orang dewasa nan sifatnya pribadi. Nanti jika sudah selesai, Ibu bakal menceritakan bagian nan perlu Anda ketahui. Setuju?”
48 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·