atau pikiran nan kelelahan—bahkan sebelum bel pertama berbunyi. Dimana kita terlalu sering membicarakan kualitas pendidikan anak SD dalam konteks nilai ujian dan nomor kelulusan. Kita jarang berbincang tentang fondasi dari segalanya: kesehatan bentuk dan mental anak. Padahal, mustahil membangun generasi pandai di atas tubuh nan rapuh.
Masalah gizi pada anak SD bukan hanya soal kekurangan makan. Di kota-kota besar, paradoks muncul: anak justru kelebihan kalori dari makanan ultraproses—mie instan, snack bungkusan manis, minuman berpemanis—namun kekurangan unsur besi, kalsium, dan protein berkualitas. Akibatnya, tubuh gendut tetapi pikiran lamban. Ini nan para mahir sebut sebagai malnutrisi ganda. Murid nan paling susah konsentrasi rupanya bukan nan paling miskin, tapi nan setiap hari sarapan dengan mie instan dan es teh sachet.
Pandemi COVID-19 mempercepat sebuah krisis nan sebenarnya sudah melangkah perlahan: epidemi miopia pada anak. Selama dua tahun pembelajaran jarak jauh, anak-anak menghabiskan rata-rata 6–8 jam sehari di depan layar. Kini, dampaknya terasa nyata di meja periksa master mata.
Yang lebih mengkhawatirkan, banyak orang tua dan pembimbing tidak menyadari bahwa anak mereka tidak bisa memandang tulisan di papan tulis dengan jelas. Anak-anak itu tidak mengeluh—karena mereka tidak tahu seperti apa rasanya penglihatan nan normal. Mereka hanya diam, tertinggal, dan dianggap tidak fokus.
Program skrining mata rutin di sekolah semestinya wajib. Bukan setahun sekali secara seremonial, melainkan terstruktur dengan tindak lanjut nyata: pemberian kacamata gratis, edukasi untuk orang tua, dan pengurangan screen time nan terukur.
Kita tetap condong menganggap bahwa anak SD "belum punya beban". Ini keliru. Tekanan akademik dari PR nan menumpuk, ekspektasi nilai sempurna, persaingan masuk SMP favorit, hingga bullying di media sosial—semua itu nyata dirasakan anak usia 7 hingga 12 tahun. Dan tidak banyak dari mereka nan mempunyai bahasa untuk mengungkapkannya.
Generasi emas 2045 nan kita impikan tidak bakal lahir dari anak-anak nan kelelahan, kurang gizi, dan cemas. Mereka bakal lahir dari anak-anak nan diberi ruang untuk tumbuh sehat—secara fisik, mental, dan sosial. Tanggung jawab itu ada di tangan kita semua: pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat.
Sudahkah kita bertanya kepada anak SD di sekitar kita: "Kamu sehat? Kamu baik-baik saja?" — dan betul-betul mendengarkan jawabannya?
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·