Anak Putri Mahkota Norwegia Divonis 4 Tahun Penjara atas Kasus Pemerkosaan

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Anak Putri Mahkota Norwegia Divonis 4 Tahun Penjara atas Kasus Pemerkosaan Marius Borg Høiby, putra Putri Mahkota Mette-Marit dari Norwegia, dijatuhi balasan empat tahun penjara mengenai kasus kekerasan seksual dan penganiayaan.(Media Sosial X)

PENGADILAN Distrik Oslo menjatuhkan vonis empat tahun penjara kepada Marius Borg Høiby, 29, putra dari Putri Mahkota Norwegia, Mette-Marit. Tiga pengadil di ruang sidang 250 menyatakan Høiby terbukti bersalah atas dua dakwaan pemerkosaan serta sejumlah pelanggaran norma lainnya. Meski demikian, pengadilan membebaskannya dari dua dakwaan pemerkosaan tambahan.

Høiby tidak datang langsung di ruang sidang lantaran argumen kesehatan nan tidak disebutkan secara rinci, tetapi dia mengikuti jalannya persidangan melalui sambungan video. Atas putusan ini, tim pengacara Høiby menyatakan bakal mengusulkan banding. Sebelumnya, jaksa penuntut umum menuntut balasan tujuh tahun tujuh bulan penjara, sementara pembela meminta keringanan balasan menjadi 18 masehi.

Kasus pemerkosaan ini melibatkan para korban nan berada dalam kondisi tidur alias tidak berdaya. Tuduhan tersebut terungkap setelah polisi menemukan rekaman video di ponsel Høiby saat dia ditangkap. Salah satu korban nan datang di pengadilan tampak menangis saat mendengarkan pembacaan putusan. Pengadilan juga memerintahkan Høiby untuk bayar tukar rugi sebesar 640.000 kroner (sekitar Rp915 juta) kepada empat korban wanita, termasuk mantan kekasihnya nan merupakan kreator konten, Nora Haukland.

Selain kasus kekerasan seksual, Høiby dinyatakan bersalah atas penganiayaan terhadap Haukland dan tindakan kekerasan bentuk serius terhadap pasangan lainnya di sebuah apartemen di area Frogner, Oslo, pada Agustus 2024 lalu.

Usai pembacaan vonis, pengacara Høiby, Petar Sekulic, sempat meminta agar kliennya dibebaskan dari tahanan agar dapat menghabiskan waktu berbareng ibunya, Putri Mahkota Mette-Marit, nan saat ini dalam kondisi sakit parah akibat fibrosis paru dan tengah menunggu transplantasi paru-paru. Namun, pengadilan menolak permohonan tersebut lantaran adanya akibat Høiby kembali menghubungi korban penganiayaan nan sebelumnya pernah dia datangi dengan melanggar perintah penahanan.

Meskipun Marius Borg Høiby bukan merupakan personil resmi family kerjaan, skandal norma ini memberikan akibat besar terhadap gambaran monarki Norwegia. Pihak istana memilih untuk tidak memberikan banyak komentar atas putusan tersebut.

Melalui surat elektronik, perwakilan istana menyatakan, "Perkara ini telah dipertimbangkan pengadilan, dan kami tidak mempunyai komentar mengenai hasilnya."

Pakar hubungan masyarakat dan guru besar emerita dari BI Norwegian Business School, Peggy Simcic Brønn, menilai bahwa situasi ini merupakan krisis institusional bagi kerajaan.

"Cara mereka menanganinya adalah dengan membiarkan orang tersebut dihukum, membiarkannya menjalani masa tahanan, tetapi berupaya memperbaiki kerusakan nan telah diperbuat orang tersebut terhadap reputasi mereka dan dampaknya bagi family kerajaan itu sendiri," ujar Brønn. (BBc/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia