Anak Nelayan Papua Barat Ini Ikut Panahan Agar Terhindar dari Pergaulan Kriminal

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Atlet panahan Papua Barat, Aris Awom, mengikuti official training di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 pada Kamis (23/7) di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah. Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan

Aris Awom, seorang remaja sekaligus atlet panahan asal Papua Barat, lahir dan besar di sebuah kampung di Kelurahan Sanggeng, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari. Sebuah kampung nan menurutnya berkawan dengan beragam tindakan kriminalitas.

Aris menceritakan, tempat tinggalnya dekat dengan pasar. Ia mengaku kerap memandang orang mabuk minuman keras, mencopet, mabuk lem, menodong, dan perihal lainnya.

Di usianya 16 tahun saat ini, Aris memilih panahan sebagai jalan hidup sekaligus agar terhindar dari aktivitas tak terpuji dari lingkungan sekitarnya. Ia berambisi mengubah stigma negatif pandangan orang terhadap masyarakat Papua.

Pemuda seusianya juga banyak nan mencopet. Bahkan contoh terdekat ada dalam keluarganya sendiri. Ia menyampaikan bahwa kakak kandungnya juga berkawan dengan minuman keras dan akhirnya meninggal pada 2025.

Atlet panahan Papua Barat, Aris Awom, mengikuti MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 pada Sabtu (25/7) di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

"Terkenal sebagai kampung kriminal. Ada nan minum, copet, dan ngelem. Kakak saya juga peminum. Tetapi saya tidak ikutan," katanya kepada kumparan, Sabtu (25/7).

Ia mengaku mau menjadi pribadi nan baik. Salah satu aktivitas positif nan diikutinya ialah dengan mengikuti perlombaan olahraga lari. Sampai pada akhirnya dia mencoba ke bagian olahraga panahan melalui seleksi program berjulukan pembinaan Sentra Pemusatan Olahraga Pelajar Nasional (SPOBNAS).

Remaja kelahiran 11 Agustus 2009 itu mulai mengenal panahan sejak lima bulan lalu. MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 pada bagian Compound U18 menjadi arena mencari jam terbang untuknya.

"Memilih panahan lantaran panahan ini kan tradisi masyarakat Papua. Mereka berburu pakai panahan. Saya juga mau menjadi atlet panahan," sambungnya.

Atlet panahan Papua Barat, Aris Awom, mengikuti MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 pada Sabtu (25/7) di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Lewat bagian olahraga panahan inilah dia seakan pergi dari kebiasaan nan kerap dilakukan orang-orang di kampungnya. Aris mengaku tak mau menyentuh perbuatan tak terpuji.

"Sekarang saya tinggal di pondok berbareng teman-teman atlet. Setiap hari hanya konsentrasi latihan dan sekolah. Cita-cita saya ke depan mau menjadi atlet panahan," terangnya.

Anak ketujuh dari tujuh berkerabat itu juga mempunyai tekad untuk memperbaiki perekonomian keluarganya. Ayah dan ibunya bekerja sebagai nelayan. Aris merasa iba dengan orang tuanya nan kudu banting tulang memenuhi kebutuhan keluarganya.

"Saya mau mengubah nasib family lantaran saya memandang orang tua saya kesulitan untuk mencukupi kebutuhan sekolah dan kebutuhan sehari-hari," ungkapnya.

Atlet panahan Papua Barat, Aris Awom, mengikuti MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 pada Sabtu (25/7) di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Manajer Tim Papua Barat, Arya Kurniatmaja, membenarkan kondisi di kampung laman Aris. Bahkan, Arya mengalami sendiri kejadian tak menyenangkan nan dialaminya.

"Saya punya pengalaman pribadi ditodong pakai obeng dan dikepung tiga orang. Hal nan bikin ironis satu di antaranya tetap remaja," ungkapnya.

Saat itu dia ditodong Rp 50 ribu. Ia merasa miris lantaran penodong tersebut hendak membeli minuman keras. Kejadiannya itu dialaminya pada siang hari.

"Saya dimintai Rp 50 ribu. Cuma kata-katanya nan miris. Bahasanya, abang kasih Rp 50 ribu dulu kita mau pakai untuk beli minuman. Itu nan bagi saya miris. Ya saya kasih lantaran ditodong obeng dari belakang satu orang dan dua di depan," jelasnya.

Arya sudah 44 tahun berada di Papua. Sepemahaman dirinya area tersebut memang berkawan dengan kriminalitas. Ia berterima kasih Aris tidak terpengaruh dengan kebiasaan negatif di kampung itu. Jalan hidup menjadi atlet panahan nan dipilih Aris disyukuri olehnya. Sebab, lingkungan saat ini lebih positif.

"Anak seusia Aris ada nan copet. Bahkan nan usianya lebih muda lagi juga ada. Saya senang Aris tidak terpengaruh. Selama berada di asrama, pribadi Aris terbentuk sebagai anak baik dan apalagi anak-anak tetangganya mau menjadi atlet panahan seperti Aris," ungkap Arya.

Ketika Aris mendaftar SPOBNAS, hasil tesnya juga bagus. Mulai dari tes fisik, tes kesehatan, tes psikologi, dan tes keahlian memanah dinyatakan lolos.

"Tidak ada pengaruh alkohol juga pada hasil tes medisnya. Semoga Aris bisa terus berkembang dan menjadi atlet profesional," kata Arya.

Arya juga mengapresiasi MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 ini. Menurutnya, digelarnya event ini berfaedah untuk atlet usia dini.

"Bisa menjaring atlet-atlet usia awal meningkatkan prestasi serta menjaring atlet panahan potensial. Selain itu akomodasi di sini juga sangat wah," ucapnya.

Segala sarpras nan tersedia di Supersoccer Arena, Kudus disebutnya sudah bagus. Ia tak pernah kesulitan akses selama mendampingi atletnya. Ia berambisi ke depannya event ini bisa datang di Indonesia Timur.

"Kami dari kontingen Indonesia bagian timur untuk sampai ke Pulau Jawa di Kudus ini kesulitan biaya. Jadi, alangkah baiknya mungkin bisa digelar di tengah-tengah Indonesia. Supaya peserta dari barat bisa ke tengah dan peserta Indonesia dari timur juga bisa ke tengah," imbuhnya.

Reporter: Vega M. Ula

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan