Aku adalah anak bungsu wanita dalam keluargaku. Sejak kecil, saya tumbuh dengan kasih sayang nan begitu besar. Aku tahu orang tuaku selalu mau nan terbaik untukku. Mereka menjagaku dengan penuh perhatian, mengingatkanku untuk berhati-hati, dan memastikan saya selalu berada di tempat nan aman.
Namun, semakin bertambah usia, ada satu pertanyaan nan terus muncul di kepalaku: kapan saya dianggap dewasa?
Sebagai anak bungsu, saya sering merasa bahwa diriku tetap dipandang sebagai anak kecil. Aku tidak mudah diizinkan pergi jauh berbareng teman-teman. Bahkan ketika teman-temanku mulai bisa pergi berpiknik alias mengikuti aktivitas di luar kota, saya tetap kudu menerima jawaban nan sama: tidak boleh.
Aku memahami kekhawatiran orang tuaku. Aku tahu bumi tidak selalu aman, terlebih bagi seorang perempuan. Tetapi terkadang saya merasa sedih ketika memandang teman-teman seusiaku mulai diberi kepercayaan untuk menjelajahi bumi mereka sendiri, sementara saya tetap kudu meyakinkan keluargaku bahwa saya bisa menjaga diri.
Di keluargaku juga ada patokan nan sudah seperti kebiasaan turun-temurun: ketika waktu Magrib tiba, semua personil family kudu berada di rumah. Bahkan jika saya sedang berada di rumah nenek nan jaraknya tidak jauh, saya tetap kudu segera pulang. Sejak mini saya diajarkan bahwa waktu Magrib adalah waktu untuk berkumpul berbareng family dan tidak berkeliaran di luar rumah.
Aku menghargai nilai itu. Aku tumbuh di lingkungan Aceh nan menjunjung tinggi kepercayaan dan adat. Aku memahami bahwa patokan tersebut lahir dari niat baik untuk menjaga anak-anaknya.
Namun terkadang saya bertanya-tanya, apakah kedisiplinan dan perlindungan kudu selalu melangkah beriringan dengan pembatasan nan sama, apalagi ketika anak itu sudah beranjak dewasa?
Yang paling sering membuatku sedih bukanlah lantaran tidak diizinkan pergi. Melainkan emosi bahwa saya belum dipercaya sepenuhnya. Seolah apa pun nan kulakukan, saya tetap bakal menjadi anak mini nan kudu terus diawasi.
Padahal saya juga sedang belajar bertanggung jawab. Aku belajar mengatur hidupku sendiri, menyelesaikan tugas kuliah, membikin keputusan, dan memahami akibat dari setiap pilihan nan kuambil. Aku tidak selalu benar, tetapi bukankah proses menjadi dewasa memang belajar dari pengalaman?
Aku tidak mau tumbuh dengan melawan orang tuaku. Aku juga tidak mau kehilangan nilai-nilai nan sudah diajarkan kepadaku sejak kecil. Aku hanya mau diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa saya bisa menjaga diri dan bertanggung jawab atas kepercayaan nan diberikan.
Mungkin bagi orang tuaku, saya bakal selalu menjadi anak mini mereka. Dan mungkin itulah corak cinta nan paling tulus.
Tetapi sebagai seorang anak bungsu perempuan, saya tetap mempunyai angan sederhana: suatu hari nanti, ketika saya menyampaikan pendapatku, meminta izin untuk pergi, alias menentukan pilihanku sendiri, keluargaku tidak lagi melihatku sebagai anak mini nan kudu selalu dijaga.
Melainkan sebagai seseorang nan telah tumbuh dan layak dipercaya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·