Anak Buka Media Sosial Usia 11-12 Tahun Terancam Tertinggal Nilai Sekolah

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Anak Buka Media Sosial Usia 11-12 Tahun Terancam Tertinggal Nilai Sekolah ilustrasi(Magnific)

ANAK-anak nan membuka akun media sosial saat mulai masuk sekolah menengah condong menunjukkan keahlian akademis nan lebih jelek dibandingkan mereka nan menundanya. Para peneliti menduga kebiasaan terus-menerus memeriksa pembaruan (update) menjadi gangguan utama bagi konsentrasi belajar siswa.

Studi nan dipublikasikan dalam jurnal Nature Human Behaviour mengungkapkan bahwa siswa nan membuka akun media sosial pertama mereka pada usia 11 hingga 12 tahun memperoleh nilai matematika dan membaca nan lebih rendah daripada mereka nan menunggu beberapa tahun. Pada usia 16 tahun, perbedaan skor antar kedua golongan tersebut setara dengan ketertinggalan pembelajaran selama kurang lebih enam bulan.

Meski penelitian ini tidak membuktikan media sosial sebagai satu-satunya penyebab, para peneliti telah memperhitungkan beragam aspek lain nan dapat memengaruhi hasil, seperti prestasi akademis siswa sebelum mempunyai media sosial, struktur keluarga, hingga tingkat pendidikan orang tua.

"Saya pikir kita sekarang tahu ada masalah dan ini adalah masalah nan kompleks, berangkaian dengan gimana platform-platform ini dibangun," ujar Dr. Marco Gui, penulis utama studi dari University of Milano-Bicocca di Italia. "Penelitian kami menunjukkan bahwa setidaknya selama masa pra-remaja, media sosial ini bermasalah."

Dalam riset tersebut, Gui dan koleganya menganalisis survei kebiasaan media sosial terhadap lebih dari 5.000 siswa di Italia beserta hasil ujian standar mereka. Saat diuji pada usia 13-14 tahun, siswa nan membikin akun media sosial pada usia 11-12 tahun meraih nilai lebih rendah dibandingkan mereka nan menunggu hingga berumur minimal 14 tahun. Kesenjangan nilai ini tetap memperkuat pada usia 15-16 tahun untuk pelajaran bahasa Italia dan semakin melebar pada pelajaran matematika.

Menariknya, kesenjangan keahlian tidak terlihat pada pelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Peneliti menilai perihal ini kemungkinan terjadi lantaran banyaknya konten media sosial nan menggunakan bahasa Inggris, sehingga memberikan paparan dan latihan secara tidak sengaja bagi para siswa.

salah satu parameter terkuat dari kesenjangan prestasi ini adalah seberapa sering anak-anak memeriksa ponsel mereka sepanjang siang dan malam.

"Kami memperkirakan bahwa salah satu mekanismenya adalah kondisi siaga terus-menerus nan ditimbulkan oleh penggunaan media sosial di ponsel pandai terhadap kehidupan anak di bawah umur. Kebutuhan terus-menerus untuk memeriksa pesan, untuk memandang apakah sesuatu terjadi di bumi online, saat Anda sedang melakukan sesuatu di bumi bentuk di sekitar Anda," kata Gui. 

"Ini berfaedah kurang datang di ruang bentuk family alias rumah. Dan dari perspektif pandang kognitif, ini bisa berfaedah kurang terlibat dalam sesuatu nan memerlukan waktu, seperti pekerjaan rumah untuk siswa seusia itu."

Temuan ini muncul di tengah wacana larangan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun di Inggris, menyusul langkah Australia nan telah memberlakukan larangan serupa. Kendati mendukung pemisah usia, Gui menilai larangan menyeluruh merupakan "kebijakan darurat" dan menekankan pentingnya membikin platform menjadi lebih kondusif serta mengurangi tingkat kecanduannya.

Sementa itu, Dennis Ougrin, Profesor Psikiatri Anak dan Remaja di Queen Mary University of London, menilai temuan ini memperkuat bukti bahwa usia pertama kali anak mengenal media sosial memengaruhi perkembangan pendidikan mereka.

"Pesan bagi para orang tua, pendidik, dan kreator kebijakan tidak selalu kudu melarang media sosial, melainkan mendukung kaum muda dalam mengembangkan kebiasaan nan sehat saat berinteraksi dengan media sosial," ujar Ougrin. (The Guardian/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia