Sukoharjo - Muhammad Badar Agung (17) siswa lulusan SMA Unggulan CT Arsa Sukoharjo dinyatakan diterima di Wageningen University, Belanda. Siswa asal Kebumen ini membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk kuliah di luar negeri.
Badar diterima di tiga bidang sekaligus, ialah Food Technology, Teknik Lingkungan, dan Data Science. Meski demikian, dia tetap menunggu pengumuman dari beberapa kampus top lainnya, seperti Monash University dan UNSW di Australia, dua universitas di Brunei Darussalam melalui danasiwa pemerintah, serta ITS dan Universitas Brawijaya.
"Untuk universitas saya baru keterima di Wageningen University di tiga jurusan. nan pertama di Food Technology (teknologi pangan), terus ada Teknik Lingkungan, sama satunya tuh Data Science. Tapi ini juga lagi nunggu dari universitas lain," kata dia, seperti dilansir detikJateng, Kamis (21/5/2026).
Di kembali prestasinya nan mentereng, ada kisah haru dan perjuangan luar biasa dari family Badar. Ekonomi keluarganya berubah drastis ketika sang ayah, nan dulunya bekerja sebagai penjual tasbih di Pasar Jatinegara, terserang stroke akibat pandemi COVID-19.
Sejak saat itu, sang ayah tidak bisa lagi bekerja. Beban tulang punggung family pun beranjak ke pundak sang ibu. Demi menyambung hidup dan membiayai rumah tangga, ibu Badar mulai berdagang jenis jajanan pasar.
Dirinya menceritakan beratnya perjuangan sang ibu nan nyaris tidak pernah tidur cukup.
"Agak sedih sih lantaran saya tahu sendiri Ibu saya tuh nyaris nggak pernah tidur nan cukup. Biasanya tuh dari jam 12 malam udah siap-siap bikin lemper (makanan dari ketan)," ujar Badar.
Berkat ketekunan sang ibu, upaya kecil-kecilan itu sekarang mulai berkembang. Jika dulu hanya bisa menitipkan 10 hingga 20 kue di toko-toko, sekarang ibunya sudah bisa menerima pesanan hingga 100 sampai 200 buah lemper dan risol.
"Kebetulan rumah di belakang ada tanah kosong dan suka nanam juga, jadi kadang nggak usah beli cabe gitu tinggal ngambil dari belakang," terangnya.
Kehidupan di selama berguru di SMA Unggulan CT Arsa Sukoharjo diakui sempat membuatnya kaget lantaran kedisiplinannya nan tinggi. Namun, lingkungan inilah nan membentuknya menjadi pribadi nan berprestasi.
"Dulu saya di SMP pernah pondok juga, tapi culture-nya kan pasti beda kan sama nan di sini. Nah, itu agak kaget di sini rupanya emang sedisiplin itu. Nah, tapi awal-awal emang capek, tapi saya berterima kasih bisa masuk sini lantaran ya banyak perubahan positif di sini, seperti itu," bebernya.
Ditanya soal masa depannya, Badar rupanya mempunyai angan besar nan spesifik. Dari sekian banyak kampus, pilihan utamanya jatuh pada bidang Data Science di Monash University, Australia. Ia mau mengawinkan dua hobinya ialah komputer dan bertani.
"Kenapa nggak kita gabungin aja sektor agrikultur sama teknologi biar bisa nyiptain ketahanan pangan. Saya memandang di kampus Monash itu banyak praktiknya, jadi saya bisa menerapkan pembelajaran saya di kondisi riil untuk jadi pembisnis tanaman alias agribisnis," ucap remaja berumur 17 tahun ini.
Baca selengkapnya di sini (idh/dhn)
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·